sn35.43:1.1 Di Sāvatthī.
sn35.43:1.2 Di sana Sang Buddha berkata …
sn35.43:1.3 “Para bhikkhu, segala sesuatu tidak kekal.
sn35.43:1.4 Dan apakah, para bhikkhu, segala sesuatu yang tidak kekal itu?
sn35.43:1.5 Mata, para bhikkhu, tidak kekal, bentuk-bentuk tidak kekal, kesadaran mata tidak kekal, kontak mata tidak kekal.
sn35.43:1.6 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak mata sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan maupun menyenangkan—itu juga tidak kekal.
sn35.43:1.7 Lidah tidak kekal, rasa-rasa tidak kekal, kesadaran lidah tidak kekal, kontak lidah tidak kekal.
sn35.43:1.8 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak lidah sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan maupun menyenangkan—itu juga tidak kekal.
sn35.43:1.9 Tubuh tidak kekal …
sn35.43:1.10 Pikiran tidak kekal, objek-objek pikiran tidak kekal, kesadaran pikiran tidak kekal, kontak pikiran tidak kekal.
sn35.43:1.11 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan maupun menyenangkan—itu juga tidak kekal.
sn35.43:1.12 Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi jemu terhadap mata, jemu terhadap bentuk-bentuk, jemu terhadap kesadaran mata, jemu terhadap kontak mata.
sn35.43:1.13 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak mata sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan maupun menyenangkan—ia juga menjadi jemu terhadapnya.
sn35.43:1.14 Ia menjadi jemu terhadap pikiran, jemu terhadap objek-objek pikiran, jemu terhadap kesadaran pikiran, jemu terhadap kontak pikiran,
sn35.43:1.15 perasaan apa pun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan maupun menyenangkan—ia juga menjadi jemu terhadapnya.
sn35.43:1.16 Dengan menjadi jemu, ia menjadi bosan; karena bosan, ia terbebaskan; ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’
sn35.43:1.17 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’”
sn35.43:1.18 Pertama.
sn35.44:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu adalah penderitaan. …”
sn35.44:1.2 Kedua.
sn35.45:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu adalah bukan diri. …”
sn35.45:1.2 Ketiga.
sn35.46:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu harus diketahui secara langsung. …”
sn35.46:1.2 Keempat.
sn35.47:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu harus dipahami sepenuhnya. …”
sn35.47:1.2 Kelima.
sn35.48:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu harus dilepaskan. …”
sn35.48:1.2 Keenam.
sn35.49:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu harus direalisasikan. …”
sn35.49:1.2 Ketujuh.
sn35.50:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu harus diketahui secara langsung dan dipahami sepenuhnya. …”
sn35.50:1.2 Kedelapan.
sn35.51:1.1 “Para bhikkhu, segala sesuatu sedang diganggu. …”
sn35.51:1.2 Kesembilan.