Kathañca, bhikkhave, bhikkhuno cāro ca vihāro ca anubuddho hoti, yathā carantaṁ viharantaṁ abhijjhādomanassā pāpakā akusalā dhammā nānussavanti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu telah menembus cara berjalan dan cara berdiam, sehingga ketika ia berjalan dan berdiam demikian, kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan ketidak-senangan tidak menguasainya?
And how has a mendicant awakened to a way of conduct and a way of living such that, when they live in that way, bad, unskillful qualities of covetousness and displeasure don’t overwhelm them?
Misalkan, para bhikkhu, seseorang memasuki hutan yang penuh duri. Di depannya ada duri, di belakangnya ada duri, di utaranya ada duri, di selatannya ada duri, di bawahnya ada duri, di atasnya ada duri. Ia berjalan maju dengan penuh perhatian dan berjalan mundur dengan penuh perhatian, berpikir: ‘Semoga aku tidak tertusuk duri!’
Suppose a person was to enter a thicket full of thorns. They’d have thorns before and behind, to the left and right, below and above. So they’d go forward mindfully and come back mindfully, thinking, ‘May I not get any thorns!’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 35.244 · Khotbah tentang Hal-Hal yang Mengandung Penderitaan | Tiga Keranjang