sn35.239:2.1 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria?
sn35.239:2.2 Di sini, para bhikkhu, setelah melihat suatu bentuk dengan mata, seorang bhikkhu tidak menangkap ciri-cirinya, tidak menangkap detail-detailnya;
sn35.239:2.3 karena jika indria mata tidak terkekang, maka kualitas-kualitas tidak baik yang jahat, yaitu ketamakan dan ketidakpuasan, akan melanda dirinya. Demi pengendaliannya, ia berlatih; ia menjaga indria mata; ia mencapai pengendalian atas indria mata.
sn35.239:2.4 Setelah mendengar suatu suara dengan telinga …
sn35.239:2.5 Setelah mencium suatu bau dengan hidung …
sn35.239:2.6 Setelah mengecap suatu rasa dengan lidah …
sn35.239:2.7 Setelah merasakan suatu sentuhan dengan tubuh …
sn35.239:2.8 Setelah mengetahui suatu objek pikiran dengan pikiran, ia tidak menangkap ciri-cirinya, tidak menangkap detail-detailnya;
sn35.239:2.9 karena jika indria pikiran tidak terkekang, maka kualitas-kualitas tidak baik yang jahat, yaitu ketamakan dan ketidakpuasan, akan melanda dirinya. Demi pengendaliannya, ia berlatih; ia menjaga indria pikiran; ia mencapai pengendalian atas indria pikiran.
sn35.239:2.10 Seperti halnya, para bhikkhu, di persimpangan empat jalan di tanah yang rata, terdapat sebuah kereta yang ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, berdiri dengan tongkat kendali yang siap. Seorang pelatih kuda yang terampil, seorang sais kereta yang mahir, setelah menaiki kereta itu, memegang tali kekang dengan tangan kiri dan tongkat kendali dengan tangan kanan, dapat mengemudikannya maju dan mundur ke mana pun ia inginkan, kapan pun ia inginkan.
sn35.239:2.11 Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu berlatih untuk melindungi, mengendalikan, menjinakkan, dan menenangkan keenam indria ini.
sn35.239:2.12 Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria.