sn35.231:9.1 Siapapun juga, para bhikkhu, baik bhikkhu maupun bhikkhuni, yang terhadap rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … dan seterusnya … terhadap objek pikiran yang dikenali oleh pikiran tidak memiliki nafsu, tidak memiliki kebencian, tidak memiliki delusi, nafsu itu telah dilepaskan, kebencian itu telah dilepaskan, delusi itu telah dilepaskan, maka walaupun objek-objek pikiran yang kuat dan menarik datang ke dalam jangkauan pikiran, hal itu tidak menguasai pikirannya; apalagi yang remeh.
sn35.231:9.2 Apakah sebabnya?
sn35.231:9.3 Karena, para bhikkhu, nafsu yang tidak ada, kebencian yang tidak ada, delusi yang tidak ada, nafsu itu telah dilepaskan, kebencian itu telah dilepaskan, delusi itu telah dilepaskan.
sn35.231:9.4 Misalkan, para bhikkhu, sebatang pohon bergetah—seperti pohon assattha, atau nigrodha, atau pilakkha, atau udumbara—yang kering, layu, dan tua.
sn35.231:9.5 Jika seseorang menebasnya di sana-sini dengan kapak yang tajam, apakah getah akan keluar?”
sn35.231:9.6 “Tidak, Yang Mulia.
sn35.231:9.7 Apakah sebabnya?
sn35.231:9.8 “Karena, Yang Mulia, getah yang ada itu sudah tidak ada.”