sn35.153:2.1 "Dan apakah, para bhikkhu, metode itu, yang dengan mengandalkan metode itu, seorang bhikkhu—tanpa keyakinan, tanpa kegemaran, tanpa tradisi lisan, tanpa penalaran, tanpa persetujuan terhadap pandangan setelah direnungkan—menyatakan pencerahan: 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan ke alam mana pun'?
sn35.153:2.2 Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu setelah melihat bentuk dengan mata, jika terdapat nafsu, kebencian, dan delusi di dalam batinnya, ia memahami: 'Ada nafsu, kebencian, dan delusi di dalam diriku.'
sn35.153:2.3 Jika tidak terdapat nafsu, kebencian, dan delusi di dalam batinnya, ia memahami: 'Tidak ada nafsu, kebencian, dan delusi di dalam diriku.'
sn35.153:2.4 Karena itu, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu setelah melihat bentuk dengan mata, jika terdapat nafsu, kebencian, dan delusi di dalam batinnya, ia memahami: 'Ada nafsu, kebencian, dan delusi di dalam diriku'; jika tidak terdapat nafsu, kebencian, dan delusi di dalam batinnya, ia memahami: 'Tidak ada nafsu, kebencian, dan delusi di dalam diriku'—apakah hal-hal ini, para bhikkhu, harus dipahami melalui keyakinan, atau melalui kegemaran, atau melalui tradisi lisan, atau melalui penalaran, atau melalui persetujuan terhadap pandangan setelah direnungkan?"
sn35.153:2.5 "Tidak, Yang Mulia."
sn35.153:2.6 "Bukankah hal-hal ini, para bhikkhu, dipahami setelah melihatnya dengan kebijaksanaan?"
sn35.153:2.7 "Benar, Yang Mulia."
sn35.153:2.8 "Inilah, para bhikkhu, metode itu, yang dengan mengandalkan metode itu, seorang bhikkhu—tanpa keyakinan, tanpa kegemaran, tanpa tradisi lisan, tanpa penalaran, tanpa persetujuan terhadap pandangan setelah direnungkan—menyatakan pencerahan:
sn35.153:2.9 'Aku memahami: "Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan ke alam mana pun"'."