sn35.145:1.1 “Para bhikkhu, bentuk-bentuk adalah bukan diri.
sn35.145:1.2 Apa pun sebab dan kondisi yang memunculkan bentuk-bentuk, itu juga bukan diri.
sn35.145:1.3 Karena bentuk-bentuk, para bhikkhu, muncul dari apa yang bukan diri, bagaimana mungkin mereka menjadi diri?
sn35.145:1.4 Suara-suara …
sn35.145:1.5 Bau-bauan …
sn35.145:1.6 Rasa-rasa …
sn35.145:1.7 Sentuhan-sentuhan …
sn35.145:1.8 Ide-ide adalah bukan diri.
sn35.145:1.9 Apa pun sebab dan kondisi yang memunculkan ide-ide, itu juga bukan diri.
sn35.145:1.10 Karena ide-ide, para bhikkhu, muncul dari apa yang bukan diri, bagaimana mungkin mereka menjadi diri?
sn35.145:1.11 Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi bosan terhadap bentuk-bentuk, bosan terhadap suara-suara, bosan terhadap bau-bauan, bosan terhadap rasa-rasa, bosan terhadap sentuhan-sentuhan, bosan terhadap ide-ide.
sn35.145:1.12 Dengan menjadi bosan, nafsu memudar. Dengan memudarnya nafsu, ia terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncul pengetahuan bahwa ia telah terbebaskan.
sn35.145:1.13 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk keadaan ini.’”
sn35.145:1.14 Dua belas.
sn35.145:1.15 Devadahavagga yang keempat.