Kemudian, setelah malam berlalu, pada pagi hari Yang Mulia Udāyī merapikan jubahnya, membawa mangkuk dan jubahnya, dan mendatangi kediaman brahmani Verahaccānigottā. Setelah tiba, ia duduk di tempat yang telah disediakan.
Kemudian brahmani Verahaccānigottā dengan tangannya sendiri melayani dan memuaskan Yang Mulia Udāyī dengan berbagai makanan keras dan lunak yang lezat.
Then the brahmin lady served and satisfied Udāyī with her own hands with delicious fresh and cooked foods.
Setelah Yang Mulia Udāyī selesai makan dan mencuci tangan serta mangkuknya, brahmani Verahaccānigottā melepas sandalnya, duduk di tempat duduk yang rendah, membuka penutup kepalanya, dan berkata kepada Yang Mulia Udāyī:
When Udāyī had eaten and washed his hand and bowl, she took off her slippers, sat on a low seat, uncovered her head, and said to him,
“kismiṁ nu kho, bhante, sati arahanto sukhadukkhaṁ paññapenti, kismiṁ asati arahanto sukhadukkhaṁ na paññapentī”ti?
"Yang Mulia, ketika apakah yang ada, para Arahanta menyatakan adanya suka dan duka? Ketika apakah yang tidak ada, para Arahanta tidak menyatakan adanya suka dan duka?"
“Sir, when what exists do the perfected ones assert that there is pleasure and pain? When what doesn’t exist do the perfected ones not declare that there is pleasure and pain?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 35.133 · Khotbah tentang Verahaccāni | Tiga Keranjang