Setelah berbincang-bincang dengan ramah dan bersahabat, ia duduk di satu sisi. Sambil duduk di satu sisi, Raja Udena berkata kepada Yang Mulia Piṇḍolabhāradvāja:
When the greetings and polite conversation were over, he sat down to one side, and said to him:
“Tuan Bhāradvāja, apakah sebabnya, apakah alasannya, sehingga para bhikkhu muda ini, yang masih remaja, berambut hitam legam, memiliki masa muda yang baik, berada di usia pertama kehidupan, yang belum pernah bermain-main dengan kenikmatan indria, menjalani kehidupan suci yang lengkap dan murni seumur hidup mereka, dan bertahan lama dalam praktik itu?”
“Worthy Bhāradvāja, there are these young monks who are youthful, with pristine black hair, blessed with youth, in the prime of life; and they’ve never played around with sensual pleasures. What is the cause, what is the reason why they practice the full and pure spiritual life as long as they live, maintaining it for a long time?”
‘Marilah, para bhikkhu, pandanglah perempuan yang seusia ibumu sebagai ibumu. Pandanglah perempuan yang seusia saudarimu sebagai saudarimu. Dan pandanglah perempuan yang seusia putrimu sebagai putrimu.’
‘Please, monks, think of women your mother’s age as your mother. Think of women your sister’s age as your sister. And think of women your daughter’s age as your daughter.’
Inilah sebabnya, Baginda Raja, inilah alasannya, mengapa para bhikkhu muda ini, yang masih remaja, berambut hitam legam, memiliki masa muda yang baik, berada di usia pertama kehidupan, yang belum pernah bermain-main dengan kenikmatan indria, menjalani kehidupan suci yang lengkap dan murni seumur hidup mereka, dan bertahan lama dalam praktik itu.”
This is a cause, Great King, this is a reason why these young monks practice the full and pure spiritual life as long as they live, maintaining it for a long time.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 35.127 · Khotbah dengan Bhāradvāja | Tiga Keranjang