Seyyathāpi, bhikkhave, puriso sāratthiko sāragavesī sārapariyesanaṁ caramāno tiṇhaṁ kuṭhāriṁ ādāya vanaṁ paviseyya. So tattha passeyya mahantaṁ kadalikkhandhaṁ ujuṁ navaṁ akukkukajātaṁ. Tamenaṁ mūle chindeyya; mūle chetvā agge chindeyya, agge chetvā pattavaṭṭiṁ vinibbhujeyya. So tassa pattavaṭṭiṁ vinibbhujanto pheggumpi nādhigaccheyya, kuto sāraṁ. Tamenaṁ cakkhumā puriso passeyya nijjhāyeyya yoniso upaparikkheyya. Tassa taṁ passato nijjhāyato yoniso upaparikkhato rittakaññeva khāyeyya, tucchakaññeva khāyeyya, asārakaññeva khāyeyya. Kiñhi siyā, bhikkhave, kadalikkhandhe sāro?
Misalkan, para bhikkhu, ada seseorang yang membutuhkan inti kayu, mencari inti kayu, mengembara mencari inti kayu. Ia membawa kapak tajam dan memasuki hutan. Di sana ia melihat sebatang pohon pisang yang besar, lurus, muda, dan tumbuh tanpa cacat. Ia menebangnya pada pangkalnya; setelah menebang pangkalnya, ia memotong pucuknya; setelah memotong pucuknya, ia mengupas lapisan pelepahnya. Ketika mengupas lapisan pelepahnya, ia tidak menemukan kayu lunak, apalagi inti kayu. Seorang yang berpenglihatan jernih akan melihatnya, merenungkannya, dan memeriksanya secara bijaksana. Baginya, ketika melihat, merenungkan, dan memeriksanya secara bijaksana, pohon pisang itu tampak hanya kosong, hampa, dan tanpa inti. Sebab apakah inti yang dapat ada dalam sebatang pohon pisang?
Suppose there was a person in need of heartwood. Wandering in search of heartwood, they’d take a sharp axe and enter a forest. There they’d see a big banana trunk, straight and young and grown unskewed. They’d cut it down at the base, cut off the top, and unroll the coiled sheaths. But they wouldn’t even find sapwood, much less heartwood. And a person with clear eyes would see it and contemplate it, examining it rationally. And it would appear to them as completely vacuous, hollow, and insubstantial. For what essence could there be in a banana trunk?