Misalkan, para bhikkhu, pada musim gugur, ketika hujan turun deras, gelembung air muncul dan pecah seketika. Seorang laki-laki dengan mata jernih akan melihatnya, merenungkannya, dan memeriksanya secara bijaksana. Baginya, ketika melihat, merenungkan, dan memeriksanya secara bijaksana, gelembung itu akan tampak kosong belaka, hampa belaka, tanpa inti belaka. Apakah inti yang bisa ada dalam gelembung air, para bhikkhu?
Suppose it was autumn, when the heavens rain heavily, and a bubble on the water forms and pops right away. And a person with clear eyes would see it and contemplate it, examining it rationally. And it would appear to them as completely vacuous, hollow, and insubstantial. For what essence could there be in a water bubble?
Demikian pula, para bhikkhu, perasaan apa pun juga—baik yang lampau, masa depan, maupun sekarang; internal maupun eksternal; kasar maupun halus; rendah maupun tinggi; jauh maupun dekat—seorang bhikkhu melihatnya, merenungkannya, dan memeriksanya secara bijaksana. Baginya, ketika melihat, merenungkan, dan memeriksanya secara bijaksana, perasaan itu akan tampak kosong belaka, hampa belaka, tanpa inti belaka. Apakah inti yang bisa ada dalam perasaan, para bhikkhu?
In the same way, a mendicant sees and contemplates any kind of feeling at all … examining it rationally. And it appears to them completely vacuous, hollow, and insubstantial. For what essence could there be in feeling?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 22.95 · Khotbah tentang Gumpalan Busa | Tiga Keranjang