sn22.90:3.1 Kemudian Yang Mulia Channa berpikir:
sn22.90:3.2 “Aku pun berpikir demikian:
sn22.90:3.3 ‘Bentuk adalah tidak kekal, perasaan …
sn22.90:3.4 persepsi …
sn22.90:3.5 bentukan-bentukan …
sn22.90:3.6 kesadaran adalah tidak kekal;
sn22.90:3.7 bentuk adalah bukan diri, perasaan …
sn22.90:3.8 persepsi …
sn22.90:3.9 bentukan-bentukan …
sn22.90:3.10 kesadaran adalah bukan diri.
sn22.90:3.11 Segala bentukan adalah tidak kekal, segala fenomena adalah bukan diri’.”
sn22.90:3.12 Namun demikian, pikiranku tidak melompat, tidak percaya, tidak mantap, dan tidak yakin pada penenangan segala bentukan, pelepasan segala kemelekatan, padamnya nafsu, kebosanan, lenyapnya, nibbāna.
sn22.90:3.13 Karena kegelisahan, kemelekatan muncul,
sn22.90:3.14 dan pikiran berbalik kembali pada gagasan:
sn22.90:3.15 ‘Kalau begitu, siapakah diriku ini?’
sn22.90:3.16 Tetapi hal itu tidak terjadi pada seseorang yang melihat Dhamma.
sn22.90:3.17 Siapakah yang dapat mengajarkan Dhamma kepadaku sehingga aku dapat melihat Dhamma?”