sn22.81:12.1 Mungkin mereka tidak menganggap bentuk sebagai diri, tidak pula perasaan
sn22.81:12.2 tidak pula persepsi
sn22.81:12.3 tidak pula bentukan-bentukan pikiran
sn22.81:12.4 tidak pula kesadaran sebagai diri …
sn22.81:12.5 Mereka juga tidak menganggap kesadaran sebagai diri, dan tidak memiliki pandangan demikian:
sn22.81:12.6 ‘Diri dan dunia adalah satu dan sama. Setelah kematian aku akan menjadi itu, kekal, abadi, langgeng, dan tidak berubah.’
sn22.81:12.7 Mereka juga tidak memiliki pandangan demikian:
sn22.81:12.8 ‘Aku mungkin tidak ada, dan itu mungkin bukan milikku. Aku tidak akan ada, dan itu tidak akan menjadi milikku.’
sn22.81:12.9 Namun, mereka masih ragu dan bimbang, belum mantap dalam Dhamma sejati.
sn22.81:12.10 Keraguan, kebimbangan, dan ketidakmantapan dalam Dhamma sejati itu, para bhikkhu, adalah bentukan pikiran.
sn22.81:12.11 Dan bentukan pikiran itu berakar pada apa, berasal dari apa, lahir dari apa, muncul dari apa?
sn22.81:12.12 Ketika seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar tersentuh oleh perasaan yang lahir dari kontak dengan ketidaktahuan, muncullah nafsu keinginan;
sn22.81:12.13 dari situlah bentukan pikiran itu lahir.
sn22.81:12.14 Demikianlah, para bhikkhu, bentukan pikiran itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:12.15 Nafsu keinginan itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:12.16 Perasaan itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:12.17 Kontak itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:12.18 Ketidaktahuan itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:12.19 Demikianlah, para bhikkhu, bagi seseorang yang mengetahui dan melihat demikian, kebinasaan kekotoran batin terjadi tanpa penundaan.”
sn22.81:12.20 Kesembilan.