Dengan melihat demikian, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar menjadi bosan terhadap bentuk, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran.
Seeing this, a learned noble disciple grows disillusioned with form, feeling, perception, choices, and consciousness.
Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’
They understand: ‘Rebirth is ended, the spiritual journey has been completed, what had to be done has been done, there is nothing further for this place.’
Sejauh apa pun alam-alam makhluk hidup, bahkan hingga puncak keberadaan, mereka adalah yang tertinggi, mereka adalah yang terbaik di dunia ini, yaitu para Arahat.”
As far as there are abodes of sentient beings, even up until the pinnacle of existence, the perfected ones are the foremost and the best.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 22.77 · Khotbah tentang Para Arahat (Ke-2) | Tiga Keranjang