sn22.43:2.1 Dan, para bhikkhu, dari apakah kesedihan, ratapan, penderitaan, duka, dan keputusasaan itu muncul? Dari apakah ia berasal?
sn22.43:2.2 Di sini, para bhikkhu, seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, yang tidak melihat para mulia, yang tidak terampil dalam Dhamma para mulia, yang tidak terlatih dalam Dhamma para mulia; yang tidak melihat orang-orang baik, yang tidak terampil dalam Dhamma orang-orang baik, yang tidak terlatih dalam Dhamma orang-orang baik,
sn22.43:2.3 memandang bentuk sebagai diri, atau diri sebagai yang memiliki bentuk, atau bentuk di dalam diri, atau diri di dalam bentuk.
sn22.43:2.4 Bentuk itu berubah dan menjadi lain baginya.
sn22.43:2.5 Dengan perubahan dan kemenjadian lain dari bentuk itu, muncullah kesedihan, ratapan, penderitaan, duka, dan keputusasaan.
sn22.43:2.6 Ia memandang perasaan sebagai diri, atau diri sebagai yang memiliki perasaan, atau perasaan di dalam diri, atau diri di dalam perasaan.
sn22.43:2.7 Perasaan itu berubah dan menjadi lain baginya.
sn22.43:2.8 Dengan perubahan dan kemenjadian lain dari perasaan itu, muncullah kesedihan, ratapan, penderitaan, duka, dan keputusasaan.
sn22.43:2.9 Ia memandang persepsi sebagai diri …
sn22.43:2.10 Ia memandang bentukan-bentukan kehendak sebagai diri …
sn22.43:2.11 Ia memandang kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai yang memiliki kesadaran, atau kesadaran di dalam diri, atau diri di dalam kesadaran.
sn22.43:2.12 Kesadaran itu berubah dan menjadi lain baginya.
sn22.43:2.13 Dengan perubahan dan kemenjadian lain dari kesadaran itu, muncullah kesedihan, ratapan, penderitaan, duka, dan keputusasaan.