sn22.21:1.1 Di Sāvatthī... di taman.
sn22.21:1.2 Kemudian Yang Mulia Ānanda mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sambil duduk di satu sisi, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:
sn22.21:1.3 ‘Padam, padam,’ Yang Mulia, dikatakan.
sn22.21:1.4 Padamnya hal-hal apakah, Yang Mulia, yang disebut ‘padam’?”
sn22.21:1.5 “Ānanda, bentuk adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantungan, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat padam.
sn22.21:1.6 Padamnya itulah yang disebut ‘padam’.
sn22.21:1.7 Perasaan adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantungan, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat padam.
sn22.21:1.8 Padamnya itulah yang disebut ‘padam’.
sn22.21:1.9 Persepsi...
sn22.21:1.10 Bentukan-bentukan kehendak adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantungan, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat padam.
sn22.21:1.11 Padamnya itulah yang disebut ‘padam’.
sn22.21:1.12 Kesadaran adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantungan, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat padam.
sn22.21:1.13 Padamnya itulah yang disebut ‘padam’.
sn22.21:1.14 Ānanda, padamnya hal-hal inilah yang disebut ‘padam’.”
sn22.21:1.15 Kesepuluh.
sn22.21:1.16 Bab Ketidakkekalan yang kedua.