sn22.116:1.1 Di Sāvatthī.
sn22.116:1.2 Sambil duduk di satu sisi, bhikkhu itu berkata kepada Sang Bhagavā:
sn22.116:1.3 “Yang Mulia, dikatakan ‘pembabar Dhamma, pembabar Dhamma’.
sn22.116:1.4 Sejauh apakah, Yang Mulia, seseorang disebut pembabar Dhamma?
sn22.116:1.5 Sejauh apakah seseorang disebut berlatih sesuai Dhamma? Dan sejauh apakah seseorang disebut telah mencapai Nibbāna dalam kehidupan ini?”
sn22.116:1.6 “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu mengajarkan Dhamma untuk kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya rupa, maka ia layak disebut ‘bhikkhu pembabar Dhamma’.
sn22.116:1.7 Jika ia berlatih untuk kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya rupa, maka ia layak disebut ‘bhikkhu yang berlatih sesuai Dhamma’.
sn22.116:1.8 Jika ia terbebaskan tanpa kemelekatan melalui kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya rupa, maka ia layak disebut ‘bhikkhu yang telah mencapai Nibbāna dalam kehidupan ini’.
sn22.116:1.9 Jika ia mengajarkan Dhamma untuk kejijikan terhadap perasaan …
sn22.116:1.10 persepsi …
sn22.116:1.11 bentukan-bentukan kehendak …
sn22.116:1.12 kesadaran, untuk kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya, maka ia layak disebut ‘bhikkhu pembabar Dhamma’.
sn22.116:1.13 Jika ia berlatih untuk kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya kesadaran, maka ia layak disebut ‘bhikkhu yang berlatih sesuai Dhamma’.
sn22.116:1.14 Jika ia terbebaskan tanpa kemelekatan melalui kejijikan, peluruhan, dan lenyapnya kesadaran, maka ia layak disebut ‘bhikkhu yang telah mencapai Nibbāna dalam kehidupan ini’.”
sn22.116:1.15 Selesai.