Yato kho, bhikkhave, ariyasāvako evaṁ lokassa samudayañca atthaṅgamañca yathābhūtaṁ pajānāti, ayaṁ vuccati, bhikkhave, ariyasāvako diṭṭhisampanno itipi, dassanasampanno itipi, āgato imaṁ saddhammaṁ itipi, passati imaṁ saddhammaṁ itipi, sekkhena ñāṇena samannāgato itipi, sekkhāya vijjāya samannāgato itipi, dhammasotaṁ samāpanno itipi, ariyo nibbedhikapañño itipi, amatadvāraṁ āhacca tiṭṭhati itipī”ti.
Ketika, para bhikkhu, seorang siswa mulia memahami demikian adanya muncul dan lenyapnya dunia, maka ia disebut, para bhikkhu, siswa mulia yang sempurna dalam pandangan, sempurna dalam penglihatan, telah datang pada Dhamma sejati ini, melihat Dhamma sejati ini, memiliki pengetahuan seorang yang masih berlatih, memiliki kebijaksanaan seorang yang masih berlatih, telah memasuki arus Dhamma, seorang mulia dengan kebijaksanaan yang menembus, dan berdiri dengan mengetuk pintu menuju tanpa-kematian.”
A noble disciple comes to truly understand the origin and disappearance of the world. Such a noble disciple is one who is called ‘one accomplished in view’, ‘one accomplished in vision’, ‘one who has come to the true teaching’, ‘one who sees this true teaching’, ‘one endowed with a trainee’s insight’, ‘one endowed with a trainee’s knowledge’, ‘one who has entered the stream of the teaching’, ‘a noble one with penetrative wisdom’, and also ‘one who stands pressing against the door to freedom from death’.”