“Sahabat Sāriputta, ada para petapa dan brahmana yang mengajarkan tentang akibat perbuatan. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa penderitaan dibuat oleh diri sendiri.
“Reverend Sāriputta, there are ascetics and brahmins who teach the efficacy of deeds. Some of them assert that suffering is made by oneself.
Dan ada pula, sahabat Sāriputta, para petapa dan brahmana yang mengajarkan tentang akibat perbuatan. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa penderitaan dibuat oleh orang lain.
Some of them assert that suffering is made by another.
Ada pula, sahabat Sāriputta, para petapa dan brahmana yang mengajarkan tentang akibat perbuatan. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa penderitaan dibuat oleh diri sendiri dan juga oleh orang lain.
Some of them assert that suffering is made by both oneself and another.
Dan ada pula, sahabat Sāriputta, para petapa dan brahmana yang mengajarkan tentang akibat perbuatan. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa penderitaan muncul secara kebetulan, tidak dibuat oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.
Some of them assert that suffering arises anomalously, not made by oneself or another.
Kathaṁ byākaramānā ca mayaṁ vuttavādino ceva samaṇassa gotamassa assāma, na ca samaṇaṁ gotamaṁ abhūtena abbhācikkheyyāma, dhammassa cānudhammaṁ byākareyyāma, na ca koci sahadhammiko vādānupāto gārayhaṁ ṭhānaṁ āgaccheyyā”ti?
Bagaimana sebaiknya kami menjawab agar kami dapat mengulangi apa yang telah dikatakan oleh petapa Gotama, dan tidak memfitnah beliau dengan sesuatu yang tidak benar? Bagaimana kami menjelaskan sesuai dengan ajarannya, tanpa ada dasar yang sah untuk dibantah dan dikritik?”
How should we answer so as to repeat what the ascetic Gotama has said, and not misrepresent him with an untruth? How should we explain in line with his teaching, with no legitimate grounds for rebuttal and criticism?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.