Para bhikkhu, orang yang malas hidup dalam penderitaan, tercemar oleh kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, dan mengabaikan tujuan besar batinnya.
A lazy person lives in suffering, mixed up with bad, unskillful qualities, neglecting their heart’s great goal.
Tetapi para bhikkhu, orang yang bersemangat hidup dengan bahagia, terasing dari kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, dan memenuhi tujuan besar batinnya.
But an energetic person lives happily, secluded from bad, unskillful qualities, fulfilling their heart’s great goal.
Oleh karena itu, para bhikkhu, bangkitkanlah semangat untuk mencapai yang belum tercapai, untuk meraih yang belum diraih, untuk merealisasikan yang belum direalisasikan, dengan berpikir:
So you should rouse up energy for attaining the unattained, achieving the unachieved, and realizing the unrealized, thinking:
Dan jasa dari mereka yang jubah, makanan, tempat tinggal, serta obat-obatan dan perlengkapan untuk orang sakit kami gunakan, akan menjadi sangat berbuah dan bermanfaat bagi mereka.’
And the services of those whose robes, almsfood, lodgings, and medicines and supplies for the sick we enjoy shall be very fruitful and beneficial for them.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 12.22 · Khotbah tentang Sepuluh Kekuatan (Ke-2) | Tiga Keranjang