‹
MN 99

Subhasutta

Khotbah kepada Subha

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 99

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Brahmana muda Subha bertanya apakah kehidupan rumah tangga atau kehidupan tanpa rumah lebih unggul. Buddha tidak menjawab secara mutlak: nilai sebuah jalan bergantung pada apakah ia dijalani dengan benar dan menghasilkan kebajikan. Inilah Subha Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menolak generalisasi dan menilai praktik dari hasilnya.

TOKOH

Subha Todeyyaputta

Brahmana muda yang membandingkan kehidupan perumah tangga dan petapa.

TEMPAT

Sāvatthī

Kota tempat Subha menemui Buddha.

GAGASAN

Jalan dinilai dari pelaksanaannya

Status luar tidak otomatis mulia; kehidupan rumah tangga maupun tanpa rumah harus dinilai dari kebajikan dan buah nyata yang dihasilkan.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Brahmana muda Subha menemui Buddha dan membandingkan kehidupan perumah tangga dengan kehidupan tanpa rumah. Ia menganggap kaum brahmana mengajarkan bahwa perumah tangga dapat melakukan jasa besar, sementara petapa hanya memiliki ruang sempit untuk berbuat kebajikan. Buddha menolak generalisasi itu dan meminta setiap jalan dinilai dari apakah praktiknya benar-benar berhasil. Percakapan kemudian membahas lima hal yang dianggap brahmana sebagai dasar perbuatan berjasa—kebenaran, pertapaan, kesucian, pembelajaran dan kemurahan hati. Buddha menunjukkan bagaimana kualitas-kualitas tersebut menemukan pemenuhan yang lebih dalam melalui batin yang bebas dari lima rintangan dan pengembangan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan serta keseimbangan.

mn99:22.1 When he had spoken, Subha said to him,

mn99:22.2 “Worthy Gotama, I have heard that

mn99:22.3 the ascetic Gotama knows a path to company with divinity.”

mn99:22.5 Is the village of Naḷakāra nearby?”

mn99:22.7 “What do you think, student? Suppose a person was born and raised in Naḷakāra.

mn99:22.8 And as soon as they left the town some people asked them for the road to Naḷakāra.

mn99:22.9 Would they be slow or hesitant to answer?”

mn99:22.12 Because they were born and raised in Naḷakāra. They’re well acquainted with all the roads to the village.”

mn99:22.13 “Still, it’s possible they might be slow or hesitant to answer. But the Realized One is never slow or hesitant when questioned about the realm of divinity or the practice that leads to the realm of divinity.

mn99:22.14 I understand the Divinity, the realm of divinity, and the practice that leads to the realm of divinity, practicing in accordance with which one is reborn in the realm of divinity.”

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.