
Buddha
Guru yang menolak generalisasi dan menilai praktik dari hasilnya.
Khotbah kepada Subha
Brahmana muda Subha bertanya apakah kehidupan rumah tangga atau kehidupan tanpa rumah lebih unggul. Buddha tidak menjawab secara mutlak: nilai sebuah jalan bergantung pada apakah ia dijalani dengan benar dan menghasilkan kebajikan. Inilah Subha Sutta.

Guru yang menolak generalisasi dan menilai praktik dari hasilnya.
Brahmana muda yang membandingkan kehidupan perumah tangga dan petapa.
Kota tempat Subha menemui Buddha.
Status luar tidak otomatis mulia; kehidupan rumah tangga maupun tanpa rumah harus dinilai dari kebajikan dan buah nyata yang dihasilkan.
Brahmana muda Subha menemui Buddha dan membandingkan kehidupan perumah tangga dengan kehidupan tanpa rumah. Ia menganggap kaum brahmana mengajarkan bahwa perumah tangga dapat melakukan jasa besar, sementara petapa hanya memiliki ruang sempit untuk berbuat kebajikan. Buddha menolak generalisasi itu dan meminta setiap jalan dinilai dari apakah praktiknya benar-benar berhasil. Percakapan kemudian membahas lima hal yang dianggap brahmana sebagai dasar perbuatan berjasa—kebenaran, pertapaan, kesucian, pembelajaran dan kemurahan hati. Buddha menunjukkan bagaimana kualitas-kualitas tersebut menemukan pemenuhan yang lebih dalam melalui batin yang bebas dari lima rintangan dan pengembangan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan serta keseimbangan.
mn99:22.1 When he had spoken, Subha said to him,
mn99:22.2 “Worthy Gotama, I have heard that
mn99:22.3 the ascetic Gotama knows a path to company with divinity.”
mn99:22.4 “What do you think, student?
mn99:22.5 Is the village of Naḷakāra nearby?”
mn99:22.6 “Yes it is, sir.”
mn99:22.7 “What do you think, student? Suppose a person was born and raised in Naḷakāra.
mn99:22.8 And as soon as they left the town some people asked them for the road to Naḷakāra.
mn99:22.9 Would they be slow or hesitant to answer?”
mn99:22.10 “No, worthy Gotama.
mn99:22.11 Why is that?
mn99:22.12 Because they were born and raised in Naḷakāra. They’re well acquainted with all the roads to the village.”
mn99:22.13 “Still, it’s possible they might be slow or hesitant to answer. But the Realized One is never slow or hesitant when questioned about the realm of divinity or the practice that leads to the realm of divinity.
mn99:22.14 I understand the Divinity, the realm of divinity, and the practice that leads to the realm of divinity, practicing in accordance with which one is reborn in the realm of divinity.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.