
Buddha
Guru yang menerima penghormatan Raja Pasenadi dan menyebut pernyataannya sebagai monumen Dhamma.
Khotbah tentang Tempat-Tempat Suci Dhamma
Raja Pasenadi menyampaikan alasan-alasan mendalam mengapa ia menaruh keyakinan kepada Buddha: kehidupan para siswa, ketertiban komunitas, kekuatan ajaran, dan perubahan nyata pada mereka yang berlatih. Inilah Dhammacetiya Sutta.

Guru yang menerima penghormatan Raja Pasenadi dan menyebut pernyataannya sebagai monumen Dhamma.

Raja Kosala yang menguraikan alasan keyakinannya kepada Buddha.
Tempat raja menemui Buddha dan menyampaikan kesaksiannya.
Penghormatan terbaik bukan bangunan, melainkan kesaksian jujur tentang ajaran yang tampak dalam kehidupan dan perilaku para praktisinya.
Raja Pasenadi bertemu Buddha di sebuah taman dan menyampaikan serangkaian alasan mengapa ia memiliki keyakinan mendalam kepada Sang Guru. Ia mengamati para petapa lain yang setelah bertahun-tahun masih tampak tidak puas, sementara para bhikkhu Buddha hidup rukun, cerah dan tertib. Ia melihat murid-murid tidak meninggalkan Buddha setelah mendengar ajaran, bahkan orang yang datang berniat berdebat sering berakhir menjadi pengikut. Raja juga memperhatikan ketertiban luar biasa ketika Buddha mengajar dan membandingkannya dengan kesulitan menjaga ketertiban di istananya sendiri. Rangkaian pengamatan pribadi itu menjadi ‘monumen-monumen Dhamma’—kesaksian Pasenadi tentang keyakinan yang tumbuh dari apa yang ia lihat sendiri.
mn89:12.1 Furthermore, I have walked and wandered from monastery to monastery and from park to park.
mn89:12.2 There I’ve seen some ascetics and brahmins who are thin, haggard, pale, and veiny—hardly a captivating sight for people, you’d think.
mn89:12.3 It occurred to me:
mn89:12.4 ‘Clearly these venerables lead the spiritual life dissatisfied, or they’re hiding some bad deed they’ve done.
mn89:12.5 That’s why they’re thin, haggard, pale, and veiny—hardly a captivating sight for people, you’d think.’
mn89:12.6 I went up to them and said:
mn89:12.7 ‘Venerables, why are you so thin, haggard, pale, and veiny—hardly a captivating sight for people, you’d think?’
mn89:12.8 They say:
mn89:12.9 ‘We have jaundice, Great King.’
mn89:12.10 But here I see mendicants always smiling and joyful, obviously happy, with cheerful faces, living relaxed, unruffled, surviving on charity, their hearts free as a wild deer.
mn89:12.11 It occurred to me:
mn89:12.12 ‘Clearly these venerables have realized a higher distinction in the Buddha’s instructions than they had before.
mn89:12.13 That’s why these venerables are always smiling and joyful, obviously happy, with cheerful faces, living relaxed, unruffled, surviving on charity, their hearts free as a wild deer.’
mn89:12.14 So I infer this about the Buddha from the teaching:
mn89:12.15 ‘The Blessed One is a fully awakened Buddha. The teaching is well explained. The Saṅgha is practicing well.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.