
Buddha
Guru yang menjelaskan hubungan antara yang dicintai dan munculnya kesedihan.
Khotbah tentang yang Terlahir dari yang Tercinta
Seorang ayah yang kehilangan putranya tidak menerima ucapan bahwa kesedihan lahir dari yang dicintai. Rangkaian peristiwa di Sāvatthī kemudian menunjukkan bagaimana cinta yang melekat dapat berubah menjadi duka, ketakutan, bahkan konflik. Inilah Piyajātika Sutta.

Guru yang menjelaskan hubungan antara yang dicintai dan munculnya kesedihan.
Perumah tangga yang kehilangan putranya dan sulit menerima penjelasan Buddha.
Ratu yang membantu Raja Pasenadi memahami ajaran melalui pertanyaan sederhana.
Kota tempat kisah duka dan percakapan istana berlangsung.
Kasih tidak disalahkan; penderitaan muncul ketika hati menuntut yang berubah agar tetap menjadi miliknya.
Seorang perumah tangga kehilangan anak yang sangat dicintainya dan begitu berduka hingga terus mendatangi tempat pembakaran jenazah sambil menangis. Buddha mengatakan bahwa kesedihan, ratapan dan penderitaan lahir dari mereka yang kita cintai. Orang itu mula-mula menolak dan pergi. Ucapan tersebut menjadi bahan pembicaraan hingga akhirnya sampai kepada Raja Pasenadi dan Ratu Mallikā. Mallikā meminta seorang brahmana memastikan ajaran itu langsung kepada Buddha, lalu membantu raja memahaminya dengan bertanya bagaimana perasaannya bila orang-orang yang sangat ia cintai mengalami kemalangan. Raja akhirnya melihat sendiri hubungan antara cinta yang melekat dan kemungkinan duka ketika perubahan terjadi.
mn87:6.1 Then Queen Mallikā addressed the brahmin Nāḷijaṅgha,
mn87:6.2 “Please, brahmin, go to the Buddha, and in my name bow with your head to his feet. Ask him if he is healthy and well, nimble, strong, and living comfortably.
mn87:6.4 And then say:
mn87:6.5 ‘Sir, did the Buddha make this statement:
mn87:6.6 “Our loved ones are a source of sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress”?’
mn87:6.7 Remember well how the Buddha answers and tell it to me.
mn87:6.8 For Realized Ones say nothing that is not so.”
mn87:6.9 “Yes, ma’am,” he replied. He went to the Buddha and exchanged greetings with him.
mn87:6.10 When the greetings and polite conversation were over, he sat down to one side and said to the Buddha,
mn87:6.11 “Worthy Gotama, Queen Mallikā bows with her head to your feet. She asks if you are healthy and well, nimble, strong, and living comfortably.
mn87:6.12 And she asks whether
mn87:6.13 the Buddha made this statement:
mn87:6.14 ‘Our loved ones are a source of sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress.’”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.