
Buddha
Guru yang menghadapi Aṅgulimāla tanpa kebencian dan membuka jalan perubahan.
Khotbah tentang Aṅgulimāla
Aṅgulimāla, pembunuh yang ditakuti, gagal mengejar Buddha yang berjalan tenang. Pertemuan itu mengubah arah hidupnya: ia berhenti melakukan kekerasan, menjadi bhikkhu, dan akhirnya mencapai pembebasan. Inilah Aṅgulimāla Sutta.

Guru yang menghadapi Aṅgulimāla tanpa kebencian dan membuka jalan perubahan.
Perampok kejam yang bertobat, ditahbiskan, dan menjalani akibat masa lalunya dengan sabar.

Raja Kosala yang datang mencari Aṅgulimāla dan terkejut melihat perubahannya.
Hutan tempat pertemuan terjadi dan kota tempat kisah berlanjut.
Masa lalu yang berat tidak harus menentukan akhir kehidupan ketika kekerasan dihentikan dan latihan dijalani sungguh-sungguh.
Aṅgulimāla adalah perampok yang ditakuti, dikenal membunuh manusia dan mengumpulkan jari korbannya. Ketika Buddha sengaja berjalan ke wilayah tempat ia berada, orang-orang berusaha memperingatkan beliau. Aṅgulimāla mengejar Buddha, tetapi meskipun berlari sekuat tenaga ia tidak dapat menyusul Sang Guru yang berjalan biasa. Ketika ia berteriak meminta Buddha berhenti, Buddha menjawab bahwa beliau telah berhenti dari kekerasan, sedangkan Aṅgulimāla belum. Kata-kata itu mengguncangnya; ia membuang senjata dan menjadi bhikkhu. Kemudian, ketika mengalami lemparan batu dan serangan akibat kebencian masyarakat, ia belajar menanggung buah perbuatannya. Pada akhirnya mantan pembunuh itu mencapai Kearahattaan.
mn86:12.1 Now at that time Venerable Aṅgulimāla was sitting not far from the Buddha.
mn86:12.2 Then the Buddha pointed with his right arm and said to the king,
mn86:12.3 “Great king, this is Aṅgulimāla.”
mn86:12.4 Then the king became frightened, scared, his hair standing on end.
mn86:12.5 Knowing this, the Buddha said to him,
mn86:12.6 “Do not fear, Great King. You have nothing to fear from him.”
mn86:12.7 Then the king’s fear died down.
mn86:12.8 Then the king went over to Aṅgulimāla and said,
mn86:12.9 “Sir, is the master really Aṅgulimāla?”
mn86:12.10 “Yes, Great King.”
mn86:12.11 “What clans were your father and mother from?”
mn86:12.12 “My father was a Gagga, and my mother a Mantāṇī.”
mn86:12.13 “Sir, may Master Gagga son of Mantāṇī be happy.
mn86:12.14 I’ll make sure that you’re provided with robes, almsfood, lodgings, and medicines and supplies for the sick.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.