
Buddha
Guru yang mengalihkan perdebatan menuju pengalaman latihan yang nyata.
Khotbah Pendek kepada Sakuludāyī
Sakuludāyī menantang Buddha menjelaskan masa lalu, masa depan, dan kebahagiaan tertinggi. Buddha mengarahkannya dari spekulasi menuju latihan bertahap yang dapat diketahui sendiri. Inilah Cūḷasakuludāyi Sutta.

Guru yang mengalihkan perdebatan menuju pengalaman latihan yang nyata.
Pengembara yang tertarik tetapi masih terikat pada kelompok dan gurunya.
Taman Suaka Merak tempat dialog berlangsung.
Jalan Buddha bergerak dari sila dan ketenangan menuju pengetahuan langsung, bukan berhenti pada cerita atau dugaan tentang yang belum dialami.
Sakuludāyin bertanya kepada Buddha tentang ajaran yang diklaim guru-guru lain sebagai ‘cahaya tertinggi’. Ketika diminta menjelaskan apa sebenarnya cahaya atau keindahan tertinggi itu, ia tidak mampu memberikan jawaban yang jelas. Buddha memakai percakapan tersebut untuk menunjukkan kelemahan mengejar sesuatu yang bahkan tidak dipahami. Udāyin kemudian meminta Buddha menjelaskan jalan-Nya sendiri. Buddha membawa pembicaraan melalui sila, meninggalkan rintangan, empat jhāna, dan keadaan-keadaan batin yang semakin halus. Alih-alih berbicara tentang tujuan samar yang hanya dibayangkan, latihan disusun sebagai pengalaman yang dapat dikembangkan dan diketahui secara bertahap.
mn79:6.1 “Well then, Udāyī, suggest something for me to talk about.”
mn79:6.2 “Sir, a few days ago someone was claiming to be all-knowing and all-seeing, to know and see everything without exception, thus: ‘Knowledge and vision are constantly and continually present to me, while walking, standing, sleeping, and waking.’
mn79:6.3 When I asked them a question about the first beginning, they dodged the issue, distracted the discussion with irrelevant points, and displayed annoyance, hate, and bitterness.
mn79:6.4 That reminded me of the Buddha:
mn79:6.5 ‘Surely it must be the Blessed One, the Holy One who is so skilled in such matters.’”
mn79:6.6 “But Udāyī, who was it that made such a claim and behaved in such a way?”
mn79:6.7 “It was the Jain ascetic of the Ñātika clan, sir.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.