
Buddha
Guru yang memperluas definisi tentang manusia sempurna.
Khotbah kepada Uggāhamāna Samaṇamaṇḍikāputta
Melalui laporan tukang kayu Pañcakaṅga, Buddha menanggapi ajaran Uggāhamāna tentang manusia sempurna. Tidak sekadar menahan empat jenis perbuatan, kesempurnaan menuntut pemahaman tentang asal-usul dan lenyapnya kebiasaan batin. Inilah Samaṇamaṇḍikā Sutta.

Guru yang memperluas definisi tentang manusia sempurna.
Tukang kayu yang menyampaikan pandangan para pengembara kepada Buddha.
Kota tempat percakapan dengan Buddha berlangsung.
Kesempurnaan etis mencakup pemahaman menyeluruh tentang niat, kebiasaan, dan jalan yang mengakhiri yang tidak bermanfaat.
Tukang kayu Pañcakaṅga mendengar pengembara Uggāhamāna menyatakan bahwa seseorang telah mencapai kesempurnaan bila ia tidak melakukan perbuatan buruk melalui tubuh dan ucapan, tidak memiliki niat buruk, serta tidak mencari penghidupan buruk. Pañcakaṅga melaporkan pandangan itu kepada Buddha. Buddha menunjukkan bahwa dengan ukuran tersebut seorang bayi kecil pun dapat dianggap sempurna karena belum mampu melakukan banyak tindakan tersebut. Beliau lalu membedakan antara sekadar tidak melakukan perbuatan buruk dan benar-benar memahami bagaimana tindakan, niat dan kebiasaan muncul serta berhenti. Kesempurnaan seorang praktisi terletak pada pengembangan jalan yang secara sadar mengakhiri keadaan tidak bermanfaat dan menumbuhkan yang bermanfaat.
mn78:3.1 Now at that time, Uggāhamāna was sitting together with a large assembly of wanderers making an uproar, a colossal racket. They engaged in all kinds of low talk, such as
mn78:3.2 talk about kings, bandits, and chief ministers; talk about armies, threats, and wars; talk about food, drink, clothes, and beds; talk about garlands and fragrances; talk about family, vehicles, villages, towns, cities, and countries; talk about women and heroes; talk at the street market and the place for water pots; talk about the departed; motley talk; tales of land and sea; and talk about being reborn in this or that place.
mn78:3.3 Uggāhamāna saw Pañcakaṅga coming off in the distance,
mn78:3.4 and hushed his own assembly,
mn78:3.5 “Be quiet, good fellows, don’t make a sound.
mn78:3.6 Here comes Pañcakaṅga, a disciple of the ascetic Gotama.
mn78:3.7 He is included among the white-clothed lay disciples of the ascetic Gotama, who is residing in Sāvatthī.
mn78:3.8 Such venerables like the quiet, are educated to be quiet, and praise the quiet.
mn78:3.9 Hopefully if he sees that our assembly is quiet he’ll see fit to approach.”
mn78:3.10 Then those wanderers fell silent.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.