‹
MN 69

Goliyānisutta

Khotbah dengan Gulissāni

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 69

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Menanggapi perilaku kasar seorang bhikkhu hutan bernama Gulissāni, Sāriputta mengajarkan bahwa bhikkhu hutan justru harus lebih menjaga tata krama ketika berada di tengah komunitas. Inilah Gulissāni Sutta.

Potret Sāriputta
TOKOH

Sāriputta

Murid utama yang mengajarkan tata krama bhikkhu hutan kepada para bhikkhu.

TOKOH

Gulissāni

Bhikkhu hutan berperilaku kasar yang menjadi bahan pengajaran Sāriputta tentang tata krama dalam komunitas.

TEMPAT

Rājagaha (Hutan Bambu)

Taman perlindungan tupai di Rājagaha, tempat Sāriputta menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.

KONSEP

Tata krama bhikkhu hutan

Seorang bhikkhu hutan justru harus lebih menjaga sikap hormat, kerendahan hati, dan tata krama ketika berada di tengah komunitas — bukan merasa bebas dari aturan karena biasa hidup sendiri.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Bhikkhu Gulissāni, yang biasa hidup di hutan, datang tinggal bersama Saṅgha tetapi menunjukkan perilaku yang kasar. Sāriputta menggunakan keadaan itu untuk menjelaskan bahwa seorang penghuni hutan pun tidak boleh menganggap kesunyian sebagai alasan mengabaikan tata kehidupan bersama. Ia harus menghormati rekan bhikkhu, memahami tempat duduk, waktu masuk desa, cara berperilaku dengan keluarga, menjaga tubuh dan ucapan, tekun belajar Dhamma serta mengembangkan meditasi. Mahāmoggallāna kemudian bertanya apakah standar tersebut hanya berlaku bagi penghuni hutan. Sāriputta menjawab bahwa semua bhikkhu harus mengembangkan kualitas itu—terlebih lagi mereka yang hidup dekat komunitas.

mn69:17.1

Āraññikenāvuso, bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo.

Sahabat, seorang bhikkhu yang berdiam di hutan harus berusaha dalam hal ajaran (Abhidhamma) dan disiplin (Abhivinaya).

mn69:17.2

Santāvuso, āraññikaṁ bhikkhuṁ abhidhamme abhivinaye pañhaṁ pucchitāro.

Sahabat, ada orang-orang yang akan menanyai seorang bhikkhu yang berdiam di hutan tentang ajaran dan disiplin.

mn69:17.3

Sace, āvuso, āraññiko bhikkhu abhidhamme abhivinaye pañhaṁ puṭṭho na sampāyati, tassa bhavanti vattāro.

Sahabat, jika seorang bhikkhu yang berdiam di hutan ditanya tentang ajaran dan disiplin tetapi tidak dapat menjawab, maka akan ada yang berkata kepadanya:

mn69:17.4

‘Kiṁ panimassāyasmato āraññikassa ekassāraññe serivihārena yo ayamāyasmā abhidhamme abhivinaye pañhaṁ puṭṭho na sampāyatī’ti—

‘Apa gunanya Yang Mulia yang berdiam di hutan ini berdiam sendirian dan mandiri di hutan, padahal ia tidak mampu menjawab ketika ditanya tentang Dhamma dan Vinaya?’

mn69:17.5

tassa bhavanti vattāro.

Mereka akan menjadi penanya demikian.

mn69:17.6

Tasmā āraññikena bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo.

Oleh karena itu, seorang bhikkhu yang berdiam di hutan harus berusaha dalam Dhamma dan Vinaya.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.