‹
MN 64

Mahāmālukyasutta

Khotbah Panjang kepada Māluṅkya

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 64

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Buddha mengoreksi pemahaman keliru Māluṅkyaputta bahwa bayi pun sudah memiliki pandangan tentang diri, lalu menjelaskan lima belenggu rendah dan jalan bertahap melepaskannya. Inilah Mahāmāluṅkya Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang mengoreksi pemahaman Māluṅkyaputta tentang lima belenggu rendah.

TOKOH

Māluṅkyaputta

Bhikkhu yang pemahamannya tentang lima belenggu rendah dikoreksi oleh Buddha.

Jetavana di Sāvatthī
TEMPAT

Jetavana

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan koreksi ini.

KONSEP

Lima belenggu rendah

Pandangan tentang diri, keraguan, kemelekatan pada ritual, nafsu indria, dan itikad buruk adalah lima belenggu yang mengikat makhluk pada alam rendah, dilepaskan bertahap lewat latihan.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha menyatakan bahwa lima belenggu yang lebih rendah tidak dapat ditinggalkan hanya dengan mengenal namanya. Setelah Ānanda memberikan penjelasan, Buddha menunjukkan bagaimana keterikatan pada pandangan tentang diri, keraguan, kemelekatan pada aturan dan ritual, keinginan indria serta niat buruk memiliki landasan yang lebih dalam dalam batin. Seorang praktisi harus melihat lima kelompok kemelekatan sebagai tidak kekal, sebagai penderitaan, penyakit, sesuatu yang asing, kosong dan bukan diri. Dengan bertumpu pada ketenangan meditasi dan pandangan terang, batin diarahkan menuju unsur tanpa-kematian. Sutta dengan demikian menghubungkan pencapaian meditasi dengan pekerjaan nyata memutus belenggu yang mempertahankan kelahiran kembali.

mn64:8.1 Suppose there was a large tree standing with heartwood. It is possible to cut out the heartwood after having cut through the bark and the softwood.

mn64:8.2 In the same way, there is a path and a practice for giving up the five lower fetters. It is possible to know and see and give up the five lower fetters by relying on that path and that practice.

mn64:8.3 Suppose the Ganges River was full to the brim so a crow could drink from it.

mn64:8.4 Then along comes a feeble person, who thinks:

mn64:8.5 ‘By swimming with my arms I’ll safely cross over to the far shore of the Ganges.’

mn64:8.6 But they’re not able to do so.

mn64:8.7 In the same way, when the Dhamma is being taught to them for the cessation of substantial reality, those whose mind does not leap forth, gain confidence, settle down, and become decided

mn64:8.8 should be regarded as being like that feeble person.

mn64:8.9 Suppose the Ganges River was full to the brim so a crow could drink from it.

mn64:8.10 Then along comes a strong person, who thinks:

mn64:8.11 ‘By swimming with my arms I’ll safely cross over to the far shore of the Ganges.’

mn64:8.13 In the same way, when the Dhamma is being taught to them for the cessation of substantial reality, those whose mind leaps forth, gains confidence, settles down, and becomes decided

mn64:8.14 should be regarded as being like that strong person.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.