
Buddha
Guru yang menjelaskan bahwa perasaan dapat dijabarkan dalam berbagai jumlah, tergantung sudut pandangnya.
Khotbah tentang Banyak Jenis Perasaan
Kepala rumah tangga istana Pañcakaṅga dan Yang Mulia Udāyī berbeda pendapat tentang berapa jenis perasaan yang diajarkan Buddha. Inilah Bahuvedanīya Sutta.

Guru yang menjelaskan bahwa perasaan dapat dijabarkan dalam berbagai jumlah, tergantung sudut pandangnya.

Wihara di Sāvatthī, tempat Pañcakaṅga dan Udāyī berdiskusi sebelum menemui Buddha.
Sesuatu yang sama dapat dijabarkan sebagai dua, tiga, lima, atau ratusan jenis perasaan, tergantung sudut pandang penjabarannya — semua benar dalam konteksnya masing-masing, bukan saling bertentangan.
Pañcakaṅga, seorang tukang kayu, dan Bhikkhu Udāyin berbeda pendapat tentang berapa jenis perasaan yang diajarkan Buddha. Perselisihan itu akhirnya sampai kepada Ānanda dan kemudian Buddha. Buddha menjelaskan bahwa perasaan dapat dikelompokkan dengan berbagai cara: dua, tiga, lima, enam, delapan belas, tiga puluh enam, hingga seratus delapan, tergantung sudut analisis yang digunakan. Karena itu dua penjelasan yang tampak berbeda tidak harus saling bertentangan. Pembicaraan kemudian bergerak dari kesenangan indria menuju kebahagiaan dalam tingkat-tingkat jhāna dan pencapaian tanpa bentuk, sampai pada penghentian persepsi dan perasaan—menunjukkan adanya kedamaian yang semakin halus melampaui kesenangan biasa.
mn59:3.1 And for a third time, Udāyī said to Pañcakaṅga,
mn59:3.2 “The Buddha hasn’t spoken of two feelings,
mn59:3.3 he’s spoken of three.”
mn59:3.6 And for a third time, Pañcakaṅga said to Udāyī,
mn59:3.7 “The Buddha hasn’t spoken of three feelings,
mn59:3.8 he’s spoken of two.”
mn59:3.11 But neither was able to persuade the other.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.