‹
MN 56

Upālisutta

Khotbah kepada Upāli

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 56

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Diutus gurunya untuk mengalahkan Buddha dalam perdebatan, perumah tangga kaya Upāli justru menjadi yakin dan berpindah menjadi pengikut Buddha. Inilah Upāli Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang meyakinkan Upāli lewat perdebatan tentang mana yang lebih menentukan akibat perbuatan — jasmani atau pikiran.

TOKOH

Upāli

Perumah tangga kaya, murid utama Nātaputta, yang diutus mendebat Buddha namun akhirnya berpindah keyakinan.

TEMPAT

Taman Mangga Pāvārika (Nāḷandā)

Taman mangga di Nāḷandā, tempat perdebatan antara Buddha dan Upāli berlangsung.

KONSEP

Pikiran lebih menentukan daripada tindakan jasmani

Berbeda dari pandangan Jain yang menekankan perbuatan jasmani, Buddha menjelaskan bahwa niat dalam pikiran adalah faktor paling menentukan akibat suatu perbuatan.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Dīgha Tapassī, seorang pengikut Nigaṇṭha Nātaputta, berbicara dengan Buddha tentang perbuatan tubuh, ucapan dan pikiran. Ketika ia melaporkan percakapan itu kepada gurunya, Nātaputta mengutus Upāli—seorang pendukung terkemuka dan pendebat yang percaya diri—untuk mengalahkan Buddha dalam perdebatan. Upāli datang dengan keyakinan bahwa tindakan tubuh adalah yang paling menentukan, tetapi melalui rangkaian pertanyaan dan perumpamaan Buddha membawanya melihat besarnya peranan niat dan pikiran. Pandangan Upāli berubah dan ia menyatakan diri sebagai pengikut Buddha. Buddha justru memintanya mempertimbangkan keputusan itu dengan matang dan tetap memberikan dana kepada para Nigaṇṭha yang sebelumnya ia dukung, sikap yang semakin mengesankan Upāli.

mn56:13.1 “What do you think, householder?

mn56:13.2 Is this Nāḷandā successful and prosperous, populous and full of people?”

mn56:13.4 “What do you think, householder?

mn56:13.5 Suppose a man were to come along with a drawn sword

mn56:13.7 ‘In one hour I will reduce all the living creatures within the bounds of Nāḷandā to one heap and mass of flesh!’

mn56:13.10 “Sir, even ten, twenty, thirty, forty, or fifty men couldn’t do that.

mn56:13.13 Suppose an ascetic or brahmin with psychic power, who has achieved mastery of the mind, were to come along

mn56:13.15 ‘I will reduce Nāḷandā to ashes with a single malevolent act of will!’

mn56:13.18 “Sir, an ascetic or brahmin with psychic power, who has achieved mastery of the mind, could reduce ten, twenty, thirty, forty, or fifty Nāḷandās to ashes with a single malevolent act of will.

mn56:13.19 How significant is one measly Nāḷandā?”

mn56:13.20 “Think about it, householder! You should think before answering.

mn56:13.21 What you said before and what you said after don’t match up.

mn56:13.22 But you said that you would debate on the basis of truth.”

mn56:13.25 “Even though the Buddha says this, still the physical rod is the most blameworthy for performing bad deeds, not so much the verbal rod or the mental rod.”

mn56:13.27 Have you heard how the wildernesses of Daṇḍaka, Kaliṅga, Mejjha, and Mātaṅga came to be that way?”

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.