
Buddha
Guru yang mengoreksi pemahaman Potaliya lewat tujuh perumpamaan tentang bahaya kenikmatan indria.
Khotbah kepada Potaliya Sang Perumah Tangga
Perumah tangga Potaliya mengaku telah 'meninggalkan dunia' hanya karena berhenti bekerja, namun Buddha menjelaskan makna sejati lewat tujuh perumpamaan tajam tentang kenikmatan indria. Inilah Potaliya Sutta.

Guru yang mengoreksi pemahaman Potaliya lewat tujuh perumpamaan tentang bahaya kenikmatan indria.
Perumah tangga yang mengaku telah 'meninggalkan dunia' hanya karena berhenti bekerja, dikoreksi pemahamannya oleh Buddha.
Hutan dekat kota Āpaṇa, tempat Buddha bertemu Potaliya setelah kembali dari mengumpulkan dana makanan.
Kenikmatan indria digambarkan bagaikan tulang tak berdaging bagi anjing, sepotong daging yang direbut burung lain, dan perumpamaan tajam lainnya — semua menggambarkan bahaya besar di balik kenikmatan sesaat.
Potaliya menemui Buddha dengan penampilan seorang perumah tangga, tetapi mengatakan bahwa ia telah menyerahkan urusan duniawinya kepada anak-anak dan menganggap dirinya telah meninggalkan kehidupan rumah tangga. Buddha menjelaskan bahwa menurut disiplin para mulia, memutus urusan duniawi berarti jauh lebih dalam daripada sekadar menyerahkan harta. Percakapan bergerak menuju meninggalkan pembunuhan, pencurian, dusta, fitnah, keserakahan, kemarahan dan keangkuhan. Buddha lalu memakai serangkaian perumpamaan tajam—termasuk anjing yang menggerogoti tulang tanpa daging, burung yang membawa sepotong daging, obor jerami melawan angin, lubang bara, mimpi, barang pinjaman dan buah di atas pohon—untuk menunjukkan betapa sedikit kepuasan dan besarnya bahaya kenikmatan indria.
mn54:15.0 1. The Dangers of Sensual Pleasures
mn54:15.1 “Householder, suppose a dog weak with hunger was hanging around a butcher’s shop.
mn54:15.2 A deft butcher or their apprentice would toss them a skeleton scraped clean of flesh and smeared in blood.
mn54:15.3 What do you think, householder?
mn54:15.4 Gnawing on such a fleshless skeleton, would that dog still get rid of its hunger?”
mn54:15.5 “No, sir.
mn54:15.6 Why not?
mn54:15.7 Because that skeleton is scraped clean of flesh and smeared in blood.
mn54:15.8 That dog will eventually get weary and frustrated.”
mn54:15.9 “In the same way, a noble disciple reflects:
mn54:15.10 ‘With the simile of a skeleton the Buddha said that sensual pleasures give little gratification and much suffering and distress, and they are all the more full of drawbacks.’
mn54:15.11 Having truly seen this with right understanding, they shun equanimity based on diversity and develop only the equanimity based on unity, where all kinds of grasping to the worldly pleasures of the flesh cease without remainder.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.