
Buddha
Guru yang secara terbuka mendorong para bhikkhu untuk menguji dirinya sendiri, bukan sekadar percaya.
Vīmaṁsakasutta — Sang Pencari Kebenaran
Buddha secara terbuka mendorong para bhikkhu untuk menguji dirinya sendiri lewat pengamatan langsung, sebelum meyakini bahwa ia benar-benar seorang Buddha yang tercerahkan sempurna. Inilah Vīmaṁsaka Sutta.

Guru yang secara terbuka mendorong para bhikkhu untuk menguji dirinya sendiri, bukan sekadar percaya.

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.
Seorang bhikkhu yang bijaksana perlu menyelidiki sendiri — lewat mata dan telinga — apakah batin Sang Guru benar-benar bebas dari kekotoran, bukan sekadar percaya begitu saja.
Buddha justru mengundang para bhikkhu untuk menyelidiki diri-Nya, bahkan bila mereka tidak mampu membaca batin orang lain. Seorang penyelidik diminta memperhatikan apakah pada Tathāgata tampak keadaan yang dapat diketahui melalui mata dan telinga yang menunjukkan kekotoran, campuran antara bersih dan kotor, atau kemurnian yang telah berlangsung lama. Penyelidikan kemudian diperluas: apakah guru itu menjadi terkenal karena mencari keuntungan, apakah ia bertindak berbeda karena takut, dan apakah ajarannya benar-benar membawa murid menuju pengalaman langsung. Setelah pemeriksaan seperti itu, keyakinan tidak lagi hanya lahir dari penghormatan kepada seorang guru, tetapi tumbuh karena ajaran telah diuji dan diketahui melalui pengalaman sendiri.
Evaṁvādiṁ kho, bhikkhave, satthāraṁ arahati sāvako upasaṅkamituṁ dhammassavanāya.
Para bhikkhu, seorang siswa layak mendatangi guru yang memiliki ajaran demikian untuk mendengarkan Dhamma.
Tassa satthā dhammaṁ deseti uttaruttariṁ paṇītapaṇītaṁ kaṇhasukkasappaṭibhāgaṁ.
Sang guru mengajarkan Dhamma kepadanya dengan tahap demi tahap yang semakin tinggi, semakin luhur, mencakup sisi gelap dan sisi terang.
Yathā yathā kho, bhikkhave, bhikkhuno satthā dhammaṁ deseti uttaruttariṁ paṇītapaṇītaṁ kaṇhasukkasappaṭibhāgaṁ tathā tathā so tasmiṁ dhamme abhiññāya idhekaccaṁ dhammaṁ dhammesu niṭṭhaṁ gacchati, satthari pasīdati:
Para bhikkhu, sejauh apa pun sang guru mengajarkan Dhamma, semakin tinggi dan semakin luhur, dengan perbandingan antara yang gelap dan yang terang, maka sejauh itu pula bhikkhu itu, setelah secara langsung mengetahui suatu prinsip tertentu di antara ajaran-ajaran itu, mencapai kesimpulan tentang ajaran-ajaran tersebut. Ia berkeyakinan kepada sang guru:
‘sammāsambuddho bhagavā, svākkhāto bhagavatā dhammo, suppaṭipanno saṅgho’ti.
‘Sang Bhagavā adalah seorang Buddha yang telah tercerahkan sempurna! Dhamma yang dibabarkan dengan baik! Saṅgha yang berlatih dengan baik!’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.