‹
MN 45

Cūḷadhammasamādānasutta

Khotbah Pendek tentang Cara Mengambil Praktik

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 45

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Cūḷadhammasamādāna Sutta menjelaskan empat cara menjalani praktik: yang terasa menyenangkan tapi berbuah pahit, yang terasa pahit dan berbuah pahit, yang terasa pahit tapi berbuah manis, dan yang terasa manis serta berbuah manis.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menjelaskan empat cara menjalani praktik berdasarkan rasa dan buahnya.

Jetavana di Sāvatthī
TEMPAT

Jetavana

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.

KONSEP

Empat cara menjalani praktik

Kenikmatan sesaat bisa berbuah penderitaan panjang, dan kesulitan sesaat bisa berbuah kebahagiaan panjang — penting memilih praktik berdasarkan buah akhirnya, bukan rasa awalnya.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha menjelaskan bahwa suatu pilihan latihan tidak dapat dinilai hanya dari apakah ia terasa menyenangkan atau menyakitkan saat dijalani. Ia membagi cara menjalani sesuatu menjadi empat: menyenangkan sekarang tetapi menghasilkan penderitaan kemudian; menyakitkan sekarang dan menghasilkan penderitaan kemudian; menyakitkan sekarang tetapi menghasilkan kebahagiaan kemudian; serta menyenangkan sekarang dan menghasilkan kebahagiaan kemudian. Masing-masing diterangkan dengan perumpamaan yang menunjukkan bagaimana daya tarik sesaat dapat menyembunyikan akibat buruk, sementara sesuatu yang awalnya berat dapat membawa hasil baik. Dengan demikian pendengar diajak melihat tindakan bukan hanya dari rasa saat ini, tetapi dari arah yang dituju.

mn45:4.1 Misalkan, para bhikkhu, pada bulan terakhir musim panas, buah māluvā (sejenis tumbuhan menjalar) pecah terbuka.

mn45:4.2 Kemudian, para bhikkhu, biji māluvā itu jatuh di pangkal sebatang pohon sal.

mn45:4.3 Kemudian, para bhikkhu, dewata yang berdiam di pohon sal itu akan menjadi ketakutan, gemetar, dan mengalami kegentaran.

mn45:4.4 Kemudian, para bhikkhu, teman-teman dan kerabat, sanak saudara serta keluarga dari dewata yang berdiam di pohon sal itu—para dewata taman, dewata hutan, dewata pohon, dan dewata yang berdiam di tumbuhan obat, rumput, dan pepohonan besar—akan berkumpul bersama dan menenangkannya:

mn45:4.5 ‘Jangan takut, Tuan, jangan takut!

mn45:4.6 Semoga benih māluvā itu ditelan burung merak, atau dimakan rusa, atau dibakar api hutan, atau diambil oleh penebang kayu, atau dimakan rayap, atau mungkin bahkan tidak subur.’

mn45:4.7 Akan tetapi, para bhikkhu, benih māluvā itu tidak ditelan burung merak, tidak dimakan rusa, tidak dibakar api hutan, tidak diambil oleh penebang kayu, tidak dimakan rayap, dan benih itu subur, sehingga ketika hujan lebat turun mencucurinya, ia pun bertunas dengan sempurna.

mn45:4.8 Dan tumbuhan menjalar itu melilitkan sulurnya yang muda, lembut, dan berbulu halus di sekeliling pohon sal itu.

mn45:4.9 Kemudian, para bhikkhu, dewa yang berdiam di pohon sal itu berpikir,

mn45:4.10 “Apakah bahaya masa depan yang dilihat oleh sahabat-sahabatku ketika mereka berkata:

mn45:4.11 “Jangan takut, Tuan, jangan takut!

mn45:4.12 “Semoga benih māluvā itu ditelan oleh burung merak, atau dimakan oleh rusa, atau terbakar oleh api hutan, atau diambil oleh penebang kayu, atau dimakan oleh rayap, atau mungkin tidak subur sama sekali.”

mn45:4.13 ‘Sungguh menyenangkan sentuhan sulur muda yang lembut, halus, dan menjuntai dari tanaman māluvā ini.’

mn45:4.14 Tanaman itu kemudian melilit pohon sal tersebut,

mn45:4.15 Ia membuat kanopi di atas pohon itu.

mn45:4.16 Setelah membuat kanopi, ia menggantungkan tirai di sekelilingnya.

mn45:4.17 Setelah menggantungkan tirai, ia membelah semua cabang-cabang utama pohon itu.

mn45:4.18 Kemudian, para bhikkhu, dewata yang berdiam di pohon itu berpikir:

mn45:4.19 'Inilah bahaya masa depan yang dilihat oleh teman-teman, kerabat, dan sanak saudara—para dewata taman, dewata hutan, dewata pohon, dan dewata yang berdiam di tumbuhan, rumput, dan pepohonan—yang setelah berkumpul bersama, menasihatiku demikian:'

mn45:4.20 “Jangan takut, Yang Mulia, jangan takut! Mungkin saja benih māluvā itu ditelan burung merak, dimakan rusa, dibakar api semak, dicabut oleh pekerja hutan, atau dimakan rayap, atau mungkin benih itu tidak akan tumbuh.”

mn45:4.21 ‘Karena benih māluvā itulah aku merasakan sakit yang menyiksa, tajam, pedih, dan perih.’

mn45:4.22 Demikian pula, para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang berpandangan dan berkeyakinan demikian: ‘Tidak ada cela dalam kenikmatan indria.’

mn45:4.23 Mereka terjerumus ke dalam kenikmatan indria.

mn45:4.24 Mereka dilayani oleh para pengembara perempuan yang berambut terikat.

mn45:4.26 ‘Apakah yang dilihat oleh para petapa dan brahmana yang mulia itu sebagai bahaya di masa depan dalam kenikmatan indria, sehingga mereka mengajarkan pelepasan kenikmatan indria dan menetapkan pemahaman penuh atas kenikmatan indria?

mn45:4.27 Sungguh menyenangkan sentuhan lengan perempuan pengembara ini yang muda, lembut, dan berbulu halus.’

mn45:4.28 Mereka jatuh ke dalam kenikmatan indria.

mn45:4.29 Setelah jatuh ke dalam kenikmatan indria, setelah kematian, dengan hancurnya jasmani, mereka terlahir kembali di alam sengsara, alam tujuan yang buruk, alam kehancuran, neraka.

mn45:4.30 Mereka di sana merasakan sakit yang menyakitkan, tajam, dan pedih.

mn45:4.32 ‘Para mulia, para petapa dan brahmana ini, melihat bahaya di masa depan dalam kenikmatan indria, mengajarkan pelepasan kenikmatan indria; mereka menetapkan pemahaman penuh atas kenikmatan indria.

mn45:4.33 Karena demi kenikmatan indria, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kami merasakan sakit yang menyakitkan, tajam, dan pedih ini.’

mn45:4.34 Ini, para bhikkhu, disebut cara menjalankan praktik yang menyenangkan saat ini tetapi menghasilkan penderitaan di masa depan.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.