
Buddha
Guru yang menjelaskan empat cara menjalani praktik berdasarkan rasa dan buahnya.
Khotbah Pendek tentang Cara Mengambil Praktik
Cūḷadhammasamādāna Sutta menjelaskan empat cara menjalani praktik: yang terasa menyenangkan tapi berbuah pahit, yang terasa pahit dan berbuah pahit, yang terasa pahit tapi berbuah manis, dan yang terasa manis serta berbuah manis.

Guru yang menjelaskan empat cara menjalani praktik berdasarkan rasa dan buahnya.

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.
Kenikmatan sesaat bisa berbuah penderitaan panjang, dan kesulitan sesaat bisa berbuah kebahagiaan panjang — penting memilih praktik berdasarkan buah akhirnya, bukan rasa awalnya.
Buddha menjelaskan bahwa suatu pilihan latihan tidak dapat dinilai hanya dari apakah ia terasa menyenangkan atau menyakitkan saat dijalani. Ia membagi cara menjalani sesuatu menjadi empat: menyenangkan sekarang tetapi menghasilkan penderitaan kemudian; menyakitkan sekarang dan menghasilkan penderitaan kemudian; menyakitkan sekarang tetapi menghasilkan kebahagiaan kemudian; serta menyenangkan sekarang dan menghasilkan kebahagiaan kemudian. Masing-masing diterangkan dengan perumpamaan yang menunjukkan bagaimana daya tarik sesaat dapat menyembunyikan akibat buruk, sementara sesuatu yang awalnya berat dapat membawa hasil baik. Dengan demikian pendengar diajak melihat tindakan bukan hanya dari rasa saat ini, tetapi dari arah yang dituju.
mn45:4.1 Suppose that in the last month of summer a camel’s foot creeper pod were to burst open
mn45:4.2 and a seed were to fall at the root of a sal tree.
mn45:4.3 Then the deity haunting that sal tree would become apprehensive and nervous.
mn45:4.4 But their friends and colleagues, relatives and kin—deities of the parks, forests, trees, and those who haunt the herbs, grass, and big trees—would come together to reassure them,
mn45:4.5 ‘Do not fear, sir, do not fear!
mn45:4.6 Hopefully that seed will be swallowed by a peacock, or eaten by a deer, or burnt by a forest fire, or picked up by a lumberjack, or eaten by termites, or it may not even be fertile.’
mn45:4.7 But none of these things happened. And the seed was fertile, so that when the monsoon clouds soaked it with rain, it sprouted.
mn45:4.8 And the creeper wound its tender, soft, and downy tendrils around that sal tree.
mn45:4.9 Then the deity thought,
mn45:4.10 ‘What future danger did my friends see when they said:
mn45:4.11 “Do not fear, sir, do not fear!
mn45:4.12 Hopefully that seed will be swallowed by a peacock, or eaten by a deer, or burnt by a forest fire, or picked up by a lumberjack, or eaten by termites, or it may not even be fertile.”
mn45:4.13 Pleasant is the touch of this creeper’s tender, soft, and downy tendrils.’
mn45:4.14 Then the creeper enfolded the sal tree,
mn45:4.15 made a canopy over it,
mn45:4.16 draped a curtain around it,
mn45:4.17 and split apart all the main branches.
mn45:4.18 Then the deity thought,
mn45:4.19 ‘This is the future danger that my friends saw!
mn45:4.21 It’s because of that camel’s foot creeper seed that I’m feeling painful, sharp, severe, acute feelings.’
mn45:4.22 In the same way, there are some ascetics and brahmins who have this doctrine and view: ‘There’s nothing wrong with sensual pleasures’ …
mn45:4.34 This is called the way of taking up practices that is pleasant now but results in future pain.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.