
Buddha
Guru yang mengingatkan para bhikkhu di Assapura tentang makna sejati gelar petapa.
Khotbah Panjang di Assapura
Di kota Assapura negeri suku Aṅga, Buddha mengingatkan para bhikkhu bahwa gelar 'petapa' dan 'brahmana' saja tidak cukup — mereka harus benar-benar menjalankan kualitas yang menjadikan gelar itu bermakna, tahap demi tahap. Inilah Mahāassapura Sutta.

Guru yang mengingatkan para bhikkhu di Assapura tentang makna sejati gelar petapa.
Kota di negeri suku Aṅga, tempat Buddha mengingatkan para bhikkhu tentang makna sejati gelar petapa.
Rasa malu dan takut berbuat salah, kemurnian perilaku, penjagaan indria, hingga pencapaian pengetahuan sejati — semua tahap ini harus dijalani sungguh-sungguh, bukan sekadar disandang sebagai gelar.
Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu apa artinya benar-benar hidup sebagai seorang samaṇa. Ia memulai dari rasa malu dan takut melakukan kesalahan, lalu bergerak melalui kemurnian perilaku tubuh dan ucapan, cara memperoleh penghidupan, penjagaan pintu indra, kesederhanaan dalam makan, kewaspadaan, perhatian penuh dan kejernihan. Setelah fondasi itu dibangun, seorang bhikkhu mencari tempat sunyi, mengatasi lima rintangan dan memasuki empat jhāna. Dari batin yang terkonsentrasi ia mengingat kehidupan lampau, melihat perjalanan makhluk sesuai kamma, dan mengetahui langsung hancurnya noda-noda. Uraian berakhir dengan gambaran seseorang yang telah menyelesaikan tugas kehidupan suci.
mn39:8.1 What more is there to do?
mn39:8.2 You should train yourselves like this: ‘We will restrain our sense doors.
mn39:8.3 When we see a sight with our eyes, we won’t get caught up in the features and details.
mn39:8.4 If the faculty of sight were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, we will practice restraint, we will protect the faculty of sight, and we will achieve its restraint.
mn39:8.5 When we hear a sound with our ears …
mn39:8.6 When we smell an odor with our nose …
mn39:8.7 When we taste a flavor with our tongue …
mn39:8.8 When we feel a touch with our body …
mn39:8.9 When we know an idea with our mind, we won’t get caught up in the features and details.
mn39:8.10 If the faculty of mind were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, we will practice restraint, we will protect the faculty of mind, and we will achieve its restraint.’
mn39:8.11 Now, mendicants, you might think,
mn39:8.12 ‘We have conscience and prudence, our bodily, verbal, and mental behavior is pure, our livelihood is pure, and our sense doors are restrained.
mn39:8.13 This is sufficient …’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.