‹
MN 37

Cūḷataṇhāsaṅkhayasutta

Khotbah Pendek tentang Berakhirnya Ketagihan

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 37

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Sakka, raja para dewa, bertanya kepada Buddha bagaimana seorang bhikkhu mencapai pembebasan lewat berakhirnya nafsu keinginan. Mahāmoggallāna kemudian menguji sendiri jawaban itu dengan mengunjungi alam Sakka. Inilah Cūḷataṇhāsaṅkhaya Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menjawab pertanyaan Sakka tentang pembebasan lewat berakhirnya nafsu keinginan.

TOKOH

Sakka

Raja para dewa yang bertanya kepada Buddha tentang pembebasan lewat berakhirnya nafsu keinginan.

TEMPAT

Wihara Timur (Sāvatthī)

Rumah panggung ibu Migāra di Wihara Timur, dekat Sāvatthī, tempat Sakka menemui Buddha.

KONSEP

Berakhirnya nafsu keinginan

Seorang bhikkhu terbebas ketika memahami bahwa tidak ada apa pun yang layak digenggam — perasaan apa pun yang muncul dipahami sebagai tidak kekal dan dilepaskan tanpa melekat.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Sakka, penguasa para dewa, bertanya kepada Buddha secara singkat bagaimana seorang bhikkhu dapat terbebas melalui hancurnya kehausan. Buddha menjawab bahwa ia harus memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang layak dilekati. Mahāmoggallāna, yang mendengar percakapan itu, kemudian bertanya-tanya apakah Sakka benar-benar memahami jawaban tersebut. Ia pergi ke alam Tiga Puluh Tiga dan mendapati Sakka sedang menikmati kemegahan surgawinya. Setelah Mahāmoggallāna mengguncang istana surgawi dengan kekuatan batin, Sakka menjadi gentar dan akhirnya mengulangi ajaran Buddha dengan benar. Kisah itu mempertemukan kemegahan alam dewa dengan pesan sederhana bahwa pembebasan justru terletak pada tidak melekat pada apa pun.

mn37:13.1 Evaṁ vutte, mārisa moggallāna, bhagavā maṁ etadavoca:

mn37:13.2 ‘idha, devānaminda, bhikkhuno sutaṁ hoti:

mn37:13.3 “sabbe dhammā nālaṁ abhinivesāyā”ti.

mn37:13.4 Evañcetaṁ, devānaminda, bhikkhuno sutaṁ hoti

mn37:13.5 “sabbe dhammā nālaṁ abhinivesāyā”ti.

mn37:13.6 So sabbaṁ dhammaṁ abhijānāti, sabbaṁ dhammaṁ abhiññāya sabbaṁ dhammaṁ parijānāti, sabbaṁ dhammaṁ pariññāya yaṁ kiñci vedanaṁ vedeti sukhaṁ vā dukkhaṁ vā adukkhamasukhaṁ vā.

mn37:13.7 So tāsu vedanāsu aniccānupassī viharati, virāgānupassī viharati, nirodhānupassī viharati, paṭinissaggānupassī viharati.

mn37:13.8 So tāsu vedanāsu aniccānupassī viharanto, virāgānupassī viharanto, nirodhānupassī viharanto, paṭinissaggānupassī viharanto na kiñci loke upādiyati,

mn37:13.9 anupādiyaṁ na paritassati, aparitassaṁ paccattaññeva parinibbāyati:

mn37:13.10 “khīṇā jāti, vusitaṁ brahmacariyaṁ, kataṁ karaṇīyaṁ, nāparaṁ itthattāyā”ti pajānāti.

mn37:13.11 Ettāvatā kho, devānaminda, bhikkhu saṅkhittena taṇhāsaṅkhayavimutto hoti accantaniṭṭho accantayogakkhemī accantabrahmacārī accantapariyosāno seṭṭho devamanussānan’ti.

mn37:13.12 Evaṁ kho me, mārisa moggallāna, bhagavā saṅkhittena taṇhāsaṅkhayavimuttiṁ abhāsī”ti.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.