
Buddha
Guru yang menceritakan kembali laku keras ekstrem yang pernah dijalaninya sebelum tercerahkan.
Mahāsaccaka Sutta
Dalam pertemuan kedua, Saccaka bertanya tentang pengembangan batin dan jasmani — Buddha menjawab panjang lebar dengan menceritakan kembali laku keras ekstrem yang pernah ia jalani sebelum menemukan jalan tengah menuju pencerahan. Inilah Mahāsaccaka Sutta.

Guru yang menceritakan kembali laku keras ekstrem yang pernah dijalaninya sebelum tercerahkan.
Debater yang kembali menemui Buddha, kali ini bertanya tentang pengembangan batin dan jasmani.
Aula beratap lancip di Hutan Besar dekat Vesālī, tempat pertemuan kedua ini berlangsung.
Buddha menceritakan laku keras ekstrem yang pernah dijalaninya hingga hampir mati kelaparan, sebelum akhirnya menemukan bahwa jalan tengah — bukan siksa diri maupun kemewahan — yang membawa pada pencerahan.
Saccaka kembali menemui Buddha dan mengangkat persoalan tentang pengembangan tubuh dan pengembangan batin. Percakapan itu membuat Buddha menceritakan pencarian-Nya sebelum pencerahan: belajar kepada Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, meninggalkan pencapaian yang belum mengakhiri penderitaan, lalu menjalani pertapaan dan penyiksaan diri yang sangat keras. Setelah menyadari bahwa jalan ekstrem itu tidak membawa pada pencerahan, ia teringat pengalaman jhāna ketika masih muda dan memahami bahwa ketenangan seperti itulah jalan yang perlu dikembangkan. Ia menerima makanan kembali, memulihkan tubuh, memasuki jhāna, dan pada malam pencerahan memperoleh tiga pengetahuan hingga noda-noda batin berakhir. Kisah itu menjawab Saccaka dengan pengalaman langsung tentang batin yang tidak lagi dikuasai kesenangan maupun rasa sakit.
mn36:13.1 Some time later, while still with pristine black hair, blessed with youth, in the prime of life—though my mother and father wished otherwise, weeping with tearful faces—I shaved off my hair and beard, dressed in ocher robes, and went forth from the lay life to homelessness.
mn36:13.2 Once I had gone forth I set out to discover what is skillful, seeking the supreme state of sublime peace. I approached Āḷāra Kālāma and said to him,
mn36:13.3 ‘Reverend Kālāma, I wish to lead the spiritual life in this teaching and training.’
mn36:13.4 Āḷāra Kālāma replied,
mn36:13.5 ‘Stay, venerable.
mn36:13.6 This teaching is such that a sensible person can soon realize their own denomination with their own insight and live having achieved it.’
mn36:13.7 I quickly memorized that teaching.
mn36:13.8 As far as lip-recital and verbal repetition went, I spoke the doctrine of knowledge, the elder doctrine. I claimed to know and see, and so did others.
mn36:13.9 Then it occurred to me,
mn36:13.10 ‘It is not solely by mere faith that Āḷāra Kālāma declares: “I realize this teaching with my own insight, and live having achieved it.”
mn36:13.11 Surely he meditates knowing and seeing this teaching.’
mn36:13.12 So I approached Āḷāra Kālāma and said to him,
mn36:13.13 ‘Reverend Kālāma, to what extent do you say you’ve realized this teaching with your own insight?’
mn36:13.14 When I said this, he declared the dimension of nothingness.
mn36:13.15 Then it occurred to me,
mn36:13.16 ‘It’s not just Āḷāra Kālāma who has faith,
mn36:13.17 energy,
mn36:13.18 mindfulness,
mn36:13.19 immersion,
mn36:13.20 and wisdom; I too have these things.
mn36:13.21 Why don’t I make an effort to realize the same teaching that Āḷāra Kālāma says he has realized with his own insight?’
mn36:13.22 I quickly realized that teaching with my own insight, and lived having achieved it.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.