
Buddha
Guru yang mengoreksi pandangan keliru Ariṭṭha lewat perumpamaan ular berbisa dan rakit.
Khotbah tentang Perumpamaan Ular
Menanggapi pandangan keliru Bhikkhu Ariṭṭha, Buddha mengajarkan Alagaddūpama Sutta: ajaran harus dipegang dengan benar seperti memegang ular berbisa, dan dipakai untuk menyeberang seperti rakit — bukan digenggam erat-erat.

Guru yang mengoreksi pandangan keliru Ariṭṭha lewat perumpamaan ular berbisa dan rakit.
Mantan penangkap burung nasar yang menjadi bhikkhu, memiliki pandangan keliru bahwa hal-hal yang dilarang Buddha sebenarnya tidak menghalangi.

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan koreksi ini kepada para bhikkhu.
Ajaran yang dipahami keliru bagaikan memegang ular berbisa dari arah yang salah — melukai diri sendiri; ajaran yang dipahami benar bagaikan rakit untuk menyeberang, bukan untuk dipeluk selamanya.
Seorang bhikkhu bernama Ariṭṭha bersikeras bahwa kenikmatan yang disebut sebagai penghalang oleh Buddha sebenarnya tidak menghalangi latihan. Para bhikkhu mencoba mengoreksinya, tetapi ia tetap mempertahankan pandangannya sehingga perkara itu dibawa kepada Buddha. Buddha menegurnya dan menjelaskan bahaya memahami Dhamma secara keliru melalui perumpamaan orang yang menangkap ular pada bagian yang salah. Ia kemudian memberikan perumpamaan rakit: ajaran dipakai untuk menyeberang, bukan untuk digenggam sebagai milik. Pembicaraan berlanjut pada enam landasan pandangan tentang diri dan menunjukkan bagaimana seseorang yang melihat semuanya tanpa ‘aku’ dan ‘milikku’ tidak lagi terguncang oleh kehilangan.
mn22:10.1 Take a futile person who memorizes the teaching—
mn22:10.2 statements, mixed prose & verse, discussions, verses, inspired exclamations, legends, stories of past lives, amazing stories, and elaborations.
mn22:10.3 But they don’t examine the meaning of those teachings with wisdom,
mn22:10.4 and so don’t come to an acceptance of them after deliberation.
mn22:10.5 They memorize the teaching for the sake of finding fault and winning debates.
mn22:10.6 They don’t realize the goal for which they memorized them.
mn22:10.7 Because they’re wrongly grasped, those teachings lead to their lasting harm and suffering.
mn22:10.8 Why is that?
mn22:10.9 Because of their wrong grasp of the teachings.
mn22:10.10 Suppose there was a person in need of a cobra. And while wandering in search of a cobra
mn22:10.11 they’d see a big cobra,
mn22:10.12 and grasp it by the coil or the tail.
mn22:10.13 But that cobra would twist back and bite them on the hand or the arm or other major or minor limb,
mn22:10.14 resulting in death or deadly pain.
mn22:10.15 Why is that?
mn22:10.16 Because of their wrong grasp of the cobra.
mn22:10.17 In the same way, a futile person memorizes the teaching …
mn22:10.23 and those teachings lead to their lasting harm and suffering.
mn22:10.24 Why is that?
mn22:10.25 Because of their wrong grasp of the teachings.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.