‹
MN 20

Vitakkasaṇṭhānasutta

Vitakkasaṇṭhānasutta — Cara Menghentikan Pikiran

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 20

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Vitakkasaṇṭhāna Sutta mengajarkan lima cara praktis menghentikan pikiran buruk yang mengganggu meditasi, mulai dari mengalihkan perhatian hingga menekan pikiran sebagai upaya terakhir.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang mengajarkan lima cara praktis menghentikan pikiran buruk yang mengganggu meditasi.

Jetavana di Sāvatthī
TEMPAT

Jetavana

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.

KONSEP

Lima cara menghentikan pikiran

Mengalihkan ke objek lain, merenungkan bahayanya, mengabaikannya, menenangkan penyebabnya secara bertahap, dan akhirnya menekannya dengan kehendak yang kuat bila cara lain gagal.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha mengajarkan lima cara yang dapat digunakan seorang bhikkhu ketika pikiran buruk dan tidak bermanfaat terus muncul saat ia sedang melatih batin. Pertama ia dapat mengalihkan perhatian kepada objek yang bermanfaat; bila belum berhasil, ia melihat bahaya dan kehinaan pikiran tersebut; berikutnya ia berhenti memberi perhatian kepadanya; kemudian ia menenangkan proses pembentukan pikiran itu; dan sebagai jalan terakhir ia mengerahkan tekad kuat untuk menundukkannya. Setiap cara diterangkan melalui perumpamaan yang konkret, sehingga sutta bergerak seperti panduan bertahap untuk menghadapi pikiran mengganggu sampai batin kembali berada di bawah kendali.

mn20:6.1 Para bhikkhu, jika ketika seorang bhikkhu mengabaikan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu, namun tetap muncul pikiran-pikiran jahat dan tidak bermanfaat yang berhubungan dengan nafsu, kebencian, dan delusi, maka bhikkhu itu harus memperhatikan penghentian bentukan-bentukan pikiran tersebut.

mn20:6.2 Ketika ia memperhatikan penghentian bentukan-bentukan pikiran itu, maka pikiran-pikiran jahat dan tidak bermanfaat yang berhubungan dengan nafsu, kebencian, dan delusi itu akan ditinggalkan dan lenyap.

mn20:6.3 Dengan meninggalkannya, batin menjadi tenang dengan sendirinya; batin menjadi mantap, menyatu, dan terkonsentrasi.

mn20:6.4 Misalkan, para bhikkhu, ada seseorang yang berjalan cepat.

mn20:6.6 ‘Mengapa aku berjalan begitu cepat?

mn20:6.7 Bagaimana jika aku berjalan perlahan saja?’

mn20:6.11 Bagaimana jika aku berdiri diam?’

mn20:6.15 Alangkah baiknya jika aku duduk.’

mn20:6.19 Mengapa aku tidak berbaring saja?’

mn20:6.21 Demikianlah, para bhikkhu, orang itu setelah meninggalkan postur yang semakin kasar demi postur yang semakin halus.

mn20:6.22 Demikian pula, para bhikkhu, jika dalam diri seorang bhikkhu yang tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu, masih muncul pikiran-pikiran jahat yang tidak bermanfaat, yang berhubungan dengan nafsu, kebencian, atau delusi, maka pikiran-pikiran itu ditinggalkan dan menjadi lenyap.

mn20:6.23 Dengan meninggalkannya, batin menjadi tenang dengan sendirinya, diam, menyatu, dan terkonsentrasi.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.