
Buddha
Guru yang memberi jawaban ringkas tentang jalan yang tidak bertengkar dengan siapa pun.
Khotbah Madhupiṇḍika (Kue Madu)
Daṇḍapāṇi bertanya kepada Buddha tentang ajaran-Nya. Jawaban Buddha sangat ringkas, lalu Mahākaccāna menguraikannya kepada para bhikkhu: bagaimana kontak, perasaan, persepsi, dan pemikiran dapat berkembang menjadi belitan pikiran. Inilah Madhupiṇḍika Sutta.

Guru yang memberi jawaban ringkas tentang jalan yang tidak bertengkar dengan siapa pun.
Orang Sakya yang bertanya kepada Buddha tentang apa yang Ia ajarkan dan nyatakan.

Murid utama yang menguraikan jawaban singkat Buddha menjadi penjelasan mendalam bagi para bhikkhu.
Wilayah Sakya tempat percakapan ini berlangsung, dekat Taman Nigrodha.
Sutta ini menunjukkan bagaimana pengalaman indrawi dapat berkembang menjadi persepsi, pemikiran, dan belitan batin yang melahirkan konflik.
Ketika Buddha sedang berada di Kapilavatthu, Daṇḍapāṇi orang Sakya mendatanginya dan bertanya apa yang ia ajarkan. Jawaban Buddha yang singkat—tentang hidup tanpa pertengkaran dan tanpa dikuasai persepsi—membuat Daṇḍapāṇi pergi tanpa memahami maksudnya. Para bhikkhu kemudian meminta penjelasan, tetapi uraian Buddha masih sangat padat sehingga mereka mendatangi Mahākaccāna. Ia membedah rangkaian pengalaman sejak indra bertemu objek, muncul kesadaran, kontak, perasaan, persepsi dan pemikiran, hingga pikiran berkembang menjadi proliferasi yang dapat melahirkan konflik. Ketika penjelasan itu dilaporkan kembali, Buddha membenarkannya dan memuji kemampuan Mahākaccāna menjabarkan ajaran yang ringkas.
mn18:22.1 Ketika ia berkata demikian, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Buddha,
mn18:22.2 "Yang Mulia, misalkan ada seseorang yang lemah karena kelaparan memperoleh sepotong kue madu. Ke mana pun ia mencicipinya, ia akan menikmati rasa manis yang lezat dan memuaskan.
mn18:22.3 Demikian pula, Bhante, seorang bhikkhu yang tulus dan cakap, dari mana pun ia merenungkan makna khotbah Dhamma ini dengan kebijaksanaan, ia akan memperoleh kepuasan batin dan memperoleh keyakinan yang jernih.
mn18:22.4 “Bhante, apakah nama khotbah Dhamma ini?”
mn18:22.5 “Oleh karena itu, Ānanda, engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini sebagai ‘Khotbah Gumpalan Madu’.”
mn18:22.6 Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
mn18:22.7 Yang Mulia Ānanda merasa puas dan bergembira atas apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
mn18:22.8 Selesailah Sutta Madhupiṇḍika, yang kedelapan.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.