
Buddha
Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.
Khotbah tentang Kesucian Makanan yang Diterima

Piṇḍapātapārisuddhi Sutta membahas kemurnian dalam menerima dan menggunakan makanan dana.

Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.

Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.
Latar sutta berada di sekitar Sāvatthī.
Bahkan makan dan menerima dana dapat menjadi latihan bila dilakukan dengan pemeriksaan batin.
Sāriputta kembali dari menerima dana makanan dan menemui Buddha. Sang Guru mengajaknya menjadikan kegiatan sehari-hari itu sebagai kesempatan memeriksa batin: apakah melalui apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasa, disentuh atau dipikirkan masih muncul keserakahan, kebencian atau kebodohan. Bila kualitas buruk masih ada, ia berusaha meninggalkannya; bila tidak ada, ia tetap berlatih dengan kewaspadaan. Pemeriksaan diperluas pada lima kelompok kemelekatan, faktor-faktor pencerahan dan tugas terhadap Empat Kebenaran Mulia. Menerima makanan dengan demikian menjadi titik awal audit yang jujur atas seberapa jauh latihan telah berkembang.
Puna caparaṁ, sāriputta, bhikkhunā iti paṭisañcikkhitabbaṁ:
Selanjutnya, Sāriputta, seorang bhikkhu harus merenungkan demikian:
‘bhāvito nu kho me ariyo aṭṭhaṅgiko maggo’ti?
‘Sudahkah kukembangkan jalan mulia berunsur delapan?’
Sace, sāriputta, bhikkhu paccavekkhamāno evaṁ jānāti:
Jika, Sāriputta, seorang bhikkhu yang merenungkan mengetahui demikian:
‘abhāvito kho me ariyo aṭṭhaṅgiko maggo’ti, tena, sāriputta, bhikkhunā ariyassa aṭṭhaṅgikassa maggassa bhāvanāya vāyamitabbaṁ.
‘Jalan Mulia Berunsur Delapan belum kukembangkan,’ maka, Sāriputta, bhikkhu itu harus berusaha mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan itu.
Sace pana, sāriputta, bhikkhu paccavekkhamāno evaṁ jānāti:
Tetapi jika, Sāriputta, seorang bhikkhu yang merenungkan mengetahui demikian:
‘bhāvito kho me ariyo aṭṭhaṅgiko maggo’ti, tena, sāriputta, bhikkhunā teneva pītipāmojjena vihātabbaṁ ahorattānusikkhinā kusalesu dhammesu.
‘Jalan mulia berunsur delapan telah kukembangkan,’ maka, Sāriputta, bhikkhu itu harus berdiam dengan kegembiraan dan sukacita itu, berlatih siang dan malam dalam kualitas-kualitas yang bermanfaat.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.