
Buddha
Rāhula menerima ajaran langsung dari Buddha.
Khotbah Singkat kepada Rāhula

Cūḷarāhulovāda Sutta berisi nasihat Buddha kepada Rāhula tentang ketidakkekalan enam landasan indra.

Rāhula menerima ajaran langsung dari Buddha.

Rāhula menerima ajaran langsung dari Buddha.
Latar sutta berada di sekitar Sāvatthī.
Ketika pengalaman indra dilihat sebagai tidak kekal, batin tidak lagi menggenggamnya sebagai aku atau milikku.
Buddha melihat bahwa kualitas-kualitas Rāhula telah matang dan membawanya untuk menerima pengajaran lebih lanjut. Mata, bentuk, kesadaran mata, kontak dan perasaan—lalu pola yang sama pada lima indra lainnya—diperiksa sebagai tidak kekal, membawa tekanan ketika dilekati, dan bukan diri. Rāhula mengikuti analisis itu sampai tidak lagi menggenggam pengalaman sebagai 'milikku', 'aku' atau 'diriku'. Pada akhir pengajaran batinnya terbebas dari noda melalui ketidakmelekatan, sementara banyak makhluk lain yang hadir memperoleh penglihatan Dhamma.
mn147:2.1 Now at that time many thousands of deities followed the Buddha, thinking,
mn147:2.2 “Today the Buddha will lead Rāhula further to the ending of defilements!”
mn147:2.3 Then the Buddha plunged deep into the Dark Forest and sat at the root of a tree on the seat spread out.
mn147:2.4 Rāhula bowed to the Buddha and sat down to one side.
mn147:2.5 The Buddha said to him:
mn147:2.6 “What do you think, Rāhula?
mn147:2.7 Is the eye permanent or impermanent?”
mn147:2.8 “Impermanent, sir.”
mn147:2.9 “But if it’s impermanent, is it suffering or happiness?”
mn147:2.10 “Suffering, sir.”
mn147:2.11 “But if it’s impermanent, suffering, and perishable, is it fit to be regarded thus:
mn147:2.12 ‘This is mine, I am this, this is my self’?”
mn147:2.13 “No, sir.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.