Nandaka
Nandaka menjadi pengajar utama, para bhikkhunī menjadi pendengar, dan Buddha memberi dukungan terhadap pengajaran itu.
Nandakovādasutta

Nandakovāda Sutta berisi nasihat Nandaka kepada para bhikkhunī.
Nandaka menjadi pengajar utama, para bhikkhunī menjadi pendengar, dan Buddha memberi dukungan terhadap pengajaran itu.
Nandaka menjadi pengajar utama, para bhikkhunī menjadi pendengar, dan Buddha memberi dukungan terhadap pengajaran itu.

Nandaka menjadi pengajar utama, para bhikkhunī menjadi pendengar, dan Buddha memberi dukungan terhadap pengajaran itu.
Latar sutta berada dalam lingkungan Saṅgha.
Dengan melihat pengalaman indra sebagai tidak kekal, batin belajar melepaskan kemelekatan.
Atas permintaan Buddha, Nandaka mengambil giliran mengajar para bhikkhunī. Ia menggunakan pola tanya jawab mengenai enam indra, objek, kesadaran, kontak dan perasaan: semuanya diperiksa sebagai tidak kekal dan tidak layak dianggap diri. Perumpamaan lampu minyak menunjukkan bahwa ketika bahan bakar dan kondisi habis, nyala pun padam. Setelah pengajaran pertama Buddha meminta Nandaka mengajar kelompok itu sekali lagi. Pengajaran kedua menghasilkan kemajuan besar; Buddha menyatakan bahwa seluruh bhikkhunī yang hadir telah mencapai setidaknya tingkat pertama pencerahan.
mn146:9.1 Suppose there was an oil lamp burning. The oil, wick, flame, and light were all impermanent and perishable.
mn146:9.2 Now, suppose someone was to say:
mn146:9.3 ‘While this oil lamp is burning, the oil, the wick, and the flame are all impermanent and perishable.
mn146:9.4 But the light is permanent, lasting, eternal, and imperishable.’
mn146:9.5 Would they be speaking rightly?”
mn146:9.6 “No, sir.
mn146:9.7 Why is that?
mn146:9.8 Because that oil lamp’s oil, wick, and flame are all impermanent and perishable,
mn146:9.9 let alone the light.”
mn146:9.10 “In the same way, suppose someone was to say:
mn146:9.11 ‘These six interior sense fields are impermanent.
mn146:9.12 But the feeling—whether pleasant, painful, or neutral—that I experience due to these six interior sense fields is permanent, lasting, eternal, and imperishable.’
mn146:9.13 Would they be speaking rightly?”
mn146:9.14 “No, sir.
mn146:9.15 Why is that?
mn146:9.16 Because each kind of feeling arises dependent on the corresponding condition.
mn146:9.17 When the corresponding condition ceases, the appropriate feeling ceases.”
mn146:9.18 “Good, good, sisters!
mn146:9.19 That’s how it is for a noble disciple who truly sees with right wisdom.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.