
Buddha
Buddha membimbing para bhikkhu melihat pengalaman indra dengan rinci.
Khotbah tentang Analisis Enam Landasan Indra

Saḷāyatanavibhaṅga Sutta menguraikan enam landasan indra dan cara batin bereaksi terhadap pengalaman.

Buddha membimbing para bhikkhu melihat pengalaman indra dengan rinci.
Buddha membimbing para bhikkhu melihat pengalaman indra dengan rinci.
Pembabaran berlangsung dalam lingkungan latihan.
Pengalaman indra dapat mengikat bila disalahpahami, tetapi dapat membebaskan bila dilihat dengan kebijaksanaan.
Buddha membedah pengalaman melalui enam landasan indra dan berbagai jenis kegembiraan, kesedihan serta keseimbangan yang muncul darinya. Beliau membedakan emosi yang masih terikat pada kehidupan rumah tangga dari kualitas yang lahir dari pelepasan, lalu menunjukkan bagaimana keadaan yang lebih kasar dapat digunakan untuk bergerak menuju yang lebih halus. Uraian akhirnya sampai pada seorang yang telah terlatih dan mampu menghadapi objek menyenangkan maupun tidak menyenangkan tanpa dikuasai reaksi lama. Enam indra dengan demikian menjadi tempat membaca bagaimana emosi muncul dan bagaimana latihan mengubah hubungan seseorang dengannya.
Tattha katamā cha gehasitā upekkhā?
Dan dalam konteks ini, apakah enam jenis keseimbangan batin yang berlandaskan kehidupan rumah tangga?
Cakkhunā rūpaṁ disvā uppajjati upekkhā bālassa mūḷhassa puthujjanassa anodhijinassa avipākajinassa anādīnavadassāvino assutavato puthujjanassa.
Setelah melihat bentuk dengan mata, muncul keseimbangan batin pada orang awam yang tidak terpelajar—orang bodoh yang belum mengatasi keterbatasannya dan akibat-akibat perbuatannya, serta buta terhadap bahaya.
Yā evarūpā upekkhā, rūpaṁ sā nātivattati.
Keseimbangan batin demikian tidak melampaui bentuk itu.
Tasmā sā upekkhā ‘gehasitā’ti vuccati.
Oleh karena itu, keseimbangan batin itu disebut ‘keseimbangan batin keduniawian’.
Sotena saddaṁ sutvā …
Setelah mendengar suara dengan telinga …
ghānena gandhaṁ ghāyitvā …
Setelah mencium bau dengan hidung …
jivhāya rasaṁ sāyitvā …
Setelah mengecap rasa dengan lidah …
kāyena phoṭṭhabbaṁ phusitvā …
Setelah merasakan sentuhan dengan tubuh …
manasā dhammaṁ viññāya uppajjati upekkhā bālassa mūḷhassa puthujjanassa anodhijinassa avipākajinassa anādīnavadassāvino assutavato puthujjanassa.
Setelah mengetahui pikiran dengan batin, muncul keseimbangan batin pada orang awam yang tidak terpelajar—orang bodoh yang belum mengatasi keterbatasannya dan akibat-akibat perbuatannya, serta buta terhadap bahaya.
Yā evarūpā upekkhā, dhammaṁ sā nātivattati.
Keseimbangan batin demikian tidak melampaui pikiran itu.
Tasmā sā upekkhā ‘gehasitā’ti vuccati.
Oleh karena itu, keseimbangan batin itu disebut ‘keseimbangan batin keduniawian’.
Imā cha gehasitā upekkhā.
Inilah enam jenis keseimbangan batin yang berlandaskan kehidupan rumah tangga.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.