‹
MN 130

Devadūtasutta

Khotbah tentang Utusan Para Dewa

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Ilustrasi pendamping Majjhima Nikāya MN 130, dengan Bunbun dan kucingnya sebagai saksi
KENALI DUNIA MN 130

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Devadūta Sutta memakai gambaran para utusan dewa untuk mengingatkan manusia tentang usia tua, sakit, kematian, dan akibat perbuatan. Sutta ini keras, tetapi tujuannya membangunkan kesadaran.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Buddha mengajarkan kisah tentang Raja Yama sebagai gambaran pemeriksaan moral setelah kematian.

TOKOH

Raja Yama

Buddha mengajarkan kisah tentang Raja Yama sebagai gambaran pemeriksaan moral setelah kematian.

TOKOH

Para makhluk

Buddha mengajarkan kisah tentang Raja Yama sebagai gambaran pemeriksaan moral setelah kematian.

TEMPAT

Sāvatthī dan alam akibat perbuatan

Pembabaran berlangsung di Sāvatthī, sementara isi sutta menggambarkan alam penderitaan sebagai akibat dari perbuatan buruk.

GAGASAN

Jangan menunda kesadaran

Tua, sakit, dan mati adalah pengingat langsung bahwa hidup perlu dijalani dengan tanggung jawab moral.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha menggambarkan seorang pelaku kejahatan yang setelah meninggal dibawa menghadap Raja Yama. Yama menanyakan apakah ia tidak pernah melihat para 'utusan dewa' yang hadir sepanjang kehidupan—bayi yang lemah, orang tua renta, orang sakit, orang yang menerima hukuman atas kejahatannya, dan jenazah. Semua itu seharusnya mengingatkan bahwa dirinya sendiri tunduk pada kelahiran, usia tua, sakit, akibat perbuatan dan kematian. Karena peringatan itu diabaikan, kisah berlanjut pada gambaran berbagai penderitaan neraka, menjadikan tanda-tanda kefanaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai peringatan sebelum akibat kamma matang.

mn130:7.1 Tamenaṁ, bhikkhave, yamo rājā tatiyaṁ devadūtaṁ samanuyuñjitvā samanugāhitvā samanubhāsitvā catutthaṁ devadūtaṁ samanuyuñjati samanugāhati samanubhāsati:

mn130:7.2 ‘ambho purisa, na tvaṁ addasa manussesu catutthaṁ devadūtaṁ pātubhūtan’ti?

mn130:7.5 Tamenaṁ, bhikkhave, yamo rājā evamāha:

mn130:7.6 ‘ambho purisa, na tvaṁ addasa manussesu rājāno coraṁ āgucāriṁ gahetvā vividhā kammakāraṇā kārente—

mn130:7.7 kasāhipi tāḷente vettehipi tāḷente addhadaṇḍakehipi tāḷente hatthampi chindante pādampi chindante hatthapādampi chindante kaṇṇampi chindante nāsampi chindante kaṇṇanāsampi chindante bilaṅgathālikampi karonte saṅkhamuṇḍikampi karonte rāhumukhampi karonte jotimālikampi karonte hatthapajjotikampi karonte erakavattikampi karonte cīrakavāsikampi karonte eṇeyyakampi karonte baḷisamaṁsikampi karonte kahāpaṇikampi karonte khārāpatacchikampi karonte palighaparivattikampi karonte palālapīṭhakampi karonte tattenapi telena osiñcante sunakhehipi khādāpente jīvantampi sūle uttāsente asināpi sīsaṁ chindante’ti?

mn130:7.10 Tamenaṁ, bhikkhave, yamo rājā evamāha:

mn130:7.11 ‘ambho purisa, tassa te viññussa sato mahallakassa na etadahosi—

mn130:7.12 ye kira, bho, pāpakāni kammāni karonti te diṭṭheva dhamme evarūpā vividhā kammakāraṇā karīyanti, kimaṅgaṁ pana parattha. Handāhaṁ kalyāṇaṁ karomi kāyena vācāya manasā’ti?

mn130:7.14 ‘nāsakkhissaṁ, bhante, pamādassaṁ, bhante’ti.

mn130:7.15 Tamenaṁ, bhikkhave, yamo rājā evamāha:

mn130:7.16 ‘ambho purisa, pamādavatāya na kalyāṇamakāsi kāyena vācāya manasā.

mn130:7.17 Taggha tvaṁ, ambho purisa, tathā karissanti yathā taṁ pamattaṁ.

mn130:7.18 Taṁ kho pana te etaṁ pāpakammaṁ neva mātarā kataṁ na pitarā kataṁ na bhātarā kataṁ na bhaginiyā kataṁ na mittāmaccehi kataṁ na ñātisālohitehi kataṁ na samaṇabrāhmaṇehi kataṁ na devatāhi kataṁ, tayāvetaṁ pāpakammaṁ kataṁ, tvaññevetassa vipākaṁ paṭisaṁvedissasī’ti.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.