
Buddha
Tiga bhikkhu ini menjadi contoh hidup rukun, sementara Buddha menjelaskan jalan mengatasi gangguan batin.
Kotornya-Kotoran Batin

Upakkilesa Sutta berawal dari perselisihan para bhikkhu di Kosambi, lalu bergerak menuju ajaran tentang gangguan batin dalam meditasi. Sutta ini menunjukkan bahwa kedamaian luar dan kejernihan dalam saling berhubungan.

Tiga bhikkhu ini menjadi contoh hidup rukun, sementara Buddha menjelaskan jalan mengatasi gangguan batin.
Tiga bhikkhu ini menjadi contoh hidup rukun, sementara Buddha menjelaskan jalan mengatasi gangguan batin.
Tiga bhikkhu ini menjadi contoh hidup rukun, sementara Buddha menjelaskan jalan mengatasi gangguan batin.
Tiga bhikkhu ini menjadi contoh hidup rukun, sementara Buddha menjelaskan jalan mengatasi gangguan batin.
Sutta bergerak dari Kosambi yang penuh perselisihan menuju tempat latihan yang lebih tenang.
Cahaya batin dan konsentrasi dapat terganggu oleh banyak noda halus; mengenalinya adalah bagian dari latihan.
Pertengkaran para bhikkhu di Kosambī tidak berhasil didamaikan, sehingga Buddha meninggalkan mereka dan akhirnya mengunjungi Anuruddha, Nandiya dan Kimbila yang hidup rukun. Dalam pembicaraan tentang meditasi, Anuruddha menceritakan pengalaman melihat cahaya dan bentuk yang kadang muncul lalu lenyap. Buddha mengenang pengalaman serupa sebelum pencerahan dan menjelaskan berbagai noda yang mengganggu konsentrasi—keraguan, kurang perhatian, kelesuan, ketakutan, kegembiraan berlebihan, usaha yang terlalu kuat atau terlalu lemah, dan ketidakseimbangan lain. Dengan mengenali serta meninggalkannya satu demi satu, konsentrasi menjadi stabil dan siap bagi pengetahuan yang lebih tinggi.
mn128:6.1 “Many voices shout at once,
mn128:6.2 yet no one thinks that they’re the fool.
mn128:6.3 Even as the Saṅgha splits,
mn128:6.4 they think no better of the other.
mn128:6.5 Dolts pretending to be astute,
mn128:6.6 they talk, their words out of bounds.
mn128:6.7 They blab at will, their mouths agape,
mn128:6.8 and not one knows what leads them on.
mn128:6.9 ‘They abused me, they hit me!
mn128:6.10 They beat me, they robbed me!’
mn128:6.11 For those bearing such a grudge,
mn128:6.12 hatred is never laid to rest.
mn128:6.13 ‘They abused me, they hit me!
mn128:6.14 They beat me, they robbed me!’
mn128:6.15 For those who bear no such grudge,
mn128:6.16 hatred is laid to rest.
mn128:6.17 For never is hatred
mn128:6.18 laid to rest by hate,
mn128:6.19 it’s laid to rest by love:
mn128:6.20 this is an ancient teaching.
mn128:6.21 When others do not understand,
mn128:6.22 let us, who do understand this,
mn128:6.23 restrain ourselves in this regard;
mn128:6.24 for that is how conflicts are laid to rest.
mn128:6.25 Breakers of bones and takers of life,
mn128:6.26 thieves of cattle, horses, wealth,
mn128:6.27 those who plunder the nation:
mn128:6.28 even they can come together,
mn128:6.29 so why can’t you?
mn128:6.30 If you find an alert companion,
mn128:6.31 an attentive friend to live happily together,
mn128:6.32 then, overcoming all adversities,
mn128:6.33 wander with them, joyful and mindful.
mn128:6.34 If you find no alert companion,
mn128:6.35 no attentive friend to live happily together,
mn128:6.36 then, like a king who flees his conquered realm,
mn128:6.37 wander alone like a tusker in the wilds.
mn128:6.38 It’s better to wander alone,
mn128:6.39 there’s no fellowship with fools.
mn128:6.40 Wander alone and do no wrong,
mn128:6.41 at ease like a tusker in the wilds.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.