
Buddha
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Khotbah kepada Bhūmija

Bhūmija Sutta membahas apakah keinginan saja cukup untuk mencapai hasil latihan. Jawabannya jelas: hasil muncul dari sebab yang tepat, bukan dari harapan kosong.

Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Latar sutta berada di Rājagaha, dalam suasana dialog antara dunia istana dan komunitas latihan.
Keinginan baik tidak cukup bila tidak disertai sebab, latihan, dan arah yang sesuai.
Bhūmija ditanya apakah kehidupan suci berbuah bila dijalankan dengan harapan, tanpa harapan, dengan harapan sekaligus tanpa harapan, atau bukan keduanya. Ketika ia membawa persoalan itu kepada Buddha, jawabannya mengubah titik perhatian: yang menentukan bukan sekadar ada atau tidaknya keinginan, melainkan apakah jalan yang ditempuh benar. Buddha memakai perumpamaan seperti mencari minyak dari pasir atau susu dari tanduk sapi untuk menunjukkan bahwa sebab yang keliru tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan. Sebaliknya, bila kondisi dan praktiknya tepat, hasil dapat muncul sebagaimana minyak diperoleh dari bahan yang memang mengandung minyak.
“Sace kho bhoto bhūmijassa satthā evaṁvādī evamakkhāyī, addhā bhoto bhūmijassa satthā sabbesaṁyeva puthusamaṇabrāhmaṇānaṁ muddhānaṁ maññe āhacca tiṭṭhatī”ti.
“Jika itu yang dikatakan oleh guru Yang Mulia Bhūmija, maka sesungguhnya guru Yang Mulia Bhūmija itu berdiri, menurutku, menundukkan kepala semua para petapa dan brahmana dari berbagai aliran.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.