
Buddha
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Khotbah kepada Bhūmija

Bhūmija Sutta membahas apakah keinginan saja cukup untuk mencapai hasil latihan. Jawabannya jelas: hasil muncul dari sebab yang tepat, bukan dari harapan kosong.

Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Bhūmija menjadi perantara percakapan, Jayasena bertanya, dan Buddha memberi penjelasan yang menegaskan hukum sebab-akibat.
Latar sutta berada di Rājagaha, dalam suasana dialog antara dunia istana dan komunitas latihan.
Keinginan baik tidak cukup bila tidak disertai sebab, latihan, dan arah yang sesuai.
Bhūmija ditanya apakah kehidupan suci berbuah bila dijalankan dengan harapan, tanpa harapan, dengan harapan sekaligus tanpa harapan, atau bukan keduanya. Ketika ia membawa persoalan itu kepada Buddha, jawabannya mengubah titik perhatian: yang menentukan bukan sekadar ada atau tidaknya keinginan, melainkan apakah jalan yang ditempuh benar. Buddha memakai perumpamaan seperti mencari minyak dari pasir atau susu dari tanduk sapi untuk menunjukkan bahwa sebab yang keliru tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan. Sebaliknya, bila kondisi dan praktiknya tepat, hasil dapat muncul sebagaimana minyak diperoleh dari bahan yang memang mengandung minyak.
mn126:10.1 Suppose there was a person in need of oil. While wandering in search of oil, they tried heaping sand in a bucket, sprinkling it little by little with water, and pressing it out.
mn126:10.2 But by doing this, they couldn’t extract any oil, regardless of whether they made a wish,
mn126:10.3 didn’t make a wish,
mn126:10.4 both did and did not make a wish,
mn126:10.5 or neither did nor did not make a wish.
mn126:10.6 Why is that?
mn126:10.7 Because that’s an irrational way to extract oil.
mn126:10.8 And so it is for any ascetics and brahmins who have wrong view, wrong purpose, wrong speech, wrong action, wrong livelihood, wrong effort, wrong mindfulness, and wrong immersion. If they lead the spiritual life, they can’t win the fruit, regardless of whether or not they make a wish.
mn126:10.12 Why is that?
mn126:10.13 Because that’s an irrational way to win the fruit.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.