‹
MN 122

Mahāsuññatasutta

Khotbah Panjang tentang Kekosongan

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Ilustrasi pendamping Majjhima Nikāya MN 122, dengan Bunbun dan kucingnya sebagai saksi
KENALI DUNIA MN 122

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Mahāsuññata Sutta memperluas pembahasan tentang kekosongan, terutama dalam hubungan antara kesunyian, komunitas, dan kedisiplinan latihan. Sutta ini menekankan pentingnya menjaga batin tetap terarah.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Buddha memberi arahan kepada Ānanda tentang keseimbangan antara hidup bersama komunitas dan menjaga batin dalam kesunyian.

Potret Ānanda
TOKOH

Ānanda

Buddha memberi arahan kepada Ānanda tentang keseimbangan antara hidup bersama komunitas dan menjaga batin dalam kesunyian.

TEMPAT

Kapilavatthu

Sutta ini berlatar di wilayah Sakya, ketika Buddha melihat keadaan para bhikkhu dan memberi nasihat tentang kesunyian.

GAGASAN

Kesunyian sebagai pelindung latihan

Kesunyian membantu batin tidak terseret oleh percakapan, kesibukan, dan kedekatan yang melemahkan perhatian.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha melihat tempat tinggal para bhikkhu menjadi ramai dan mengingatkan Ānanda bahwa kegemaran berkumpul tidak selaras dengan kedalaman penyepian. Beliau kemudian menjelaskan bagaimana kekosongan dipelihara bukan hanya ketika duduk bermeditasi, tetapi juga saat berjalan, berdiri, duduk, berbaring, berbicara dan berhubungan dengan orang lain. Seorang bhikkhu memeriksa apakah kenikmatan indria, kebencian atau keadaan tidak bermanfaat masih menguasai batin, dan bahkan kedekatan dengan seorang guru dinilai dari apakah benar-benar membantu pelepasan. Kesunyian dalam sutta ini akhirnya menjadi latihan menjaga batin tetap tidak dihuni oleh hal-hal yang mengikat.

mn122:11.1 Jika, Ānanda, ketika seorang bhikkhu berdiam dalam cara demikian, pikirannya cenderung untuk berjalan, maka ia berjalan:

mn122:11.2 ‘Sewaktu saya berjalan, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil berupa keserakahan dan ketidakpuasan tidak akan menguasai saya.’

mn122:11.3 Demikianlah ia sadar akan situasi tersebut.

mn122:11.4 Ānanda, jika seorang bhikkhu yang berdiam dalam cara berdiam ini, pikirannya condong untuk berdiri, maka ia berdiri, dengan berpikir:

mn122:11.5 ‘Selama aku berdiri, nafsu keinginan dan ketidakpuasan, serta kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat, tidak akan meliputiku.’

mn122:11.6 Demikianlah ia senantiasa waspada terhadap keadaan tersebut.

mn122:11.7 Ānanda, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan cara bermeditasi demikian, jika pikirannya cenderung untuk duduk, ia pun duduk, berpikir:

mn122:11.8 ‘Semoga ketika aku duduk, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, berupa keinginan dan ketidakpuasan, tidak meliputiku.’

mn122:11.9 Demikianlah ia sadar penuh dalam situasi itu.

mn122:11.10 Jika, Ānanda, ketika seorang bhikkhu berdiam dalam cara berdiam ini, pikirannya condong untuk berbaring, ia berbaring sambil berpikir:

mn122:11.11 ‘Ketika aku berbaring, nafsu keinginan dan ketidakpuasan, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, tidak akan menguasai diriku.’

mn122:11.12 Demikianlah ia sadar penuh dalam situasi itu.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.