‹
MN 119

Kāyagatāsatisutta

Khotbah tentang Perhatian pada Tubuh

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Ilustrasi pendamping Majjhima Nikāya MN 119, dengan Bunbun dan kucingnya sebagai saksi
KENALI DUNIA MN 119

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Kāyagatāsati Sutta mengajarkan perhatian yang mendalam terhadap tubuh. Tubuh tidak dilihat sebagai milik untuk dibanggakan, tetapi sebagai medan latihan untuk menumbuhkan kejernihan.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Buddha mengajar para bhikkhu agar tubuh menjadi objek latihan yang jernih, bukan sumber kemelekatan.

TOKOH

Para bhikkhu

Buddha mengajar para bhikkhu agar tubuh menjadi objek latihan yang jernih, bukan sumber kemelekatan.

TEMPAT

Sāvatthī

Sutta ini berlatar komunitas monastik yang menekankan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.

GAGASAN

Tubuh sebagai medan sadar

Dengan memperhatikan tubuh secara benar, seseorang belajar melihat pengalaman secara tenang, stabil, dan tidak melekat.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha mengajarkan perhatian yang diarahkan pada tubuh secara menyeluruh. Latihan dimulai dari napas, postur, aktivitas sehari-hari, bagian-bagian tubuh, unsur-unsur dan perenungan terhadap mayat dalam berbagai tahap pembusukan. Ia kemudian memasukkan empat jhāna, masing-masing diterangkan dengan perumpamaan jasmani yang kuat tentang bagaimana kegembiraan, kebahagiaan dan kejernihan memenuhi seluruh tubuh. Ketika perhatian pada tubuh dikembangkan dan sering dilatih, Māra sulit memperoleh pijakan. Buddha menutup dengan daftar manfaat luas, dari kemampuan menanggung rasa tidak nyaman sampai pencapaian pengetahuan langsung dan pembebasan.

mn119:18.1 Furthermore, a mendicant, quite secluded from sensual pleasures, secluded from unskillful qualities, enters and remains in the first absorption, which has the rapture and bliss born of seclusion, while placing the mind and keeping it connected.

mn119:18.2 They drench, steep, fill, and spread themselves with rapture and bliss born of seclusion. There’s no part of the body that’s not spread with rapture and bliss born of seclusion.

mn119:18.3 It’s like when a deft bathroom attendant or their apprentice pours bath powder into a bronze dish, sprinkling it little by little with water. They knead it until the ball of bath powder is soaked and saturated with moisture, spread through inside and out; yet no moisture oozes out.

mn119:18.4 In the same way, a mendicant drenches, steeps, fills, and spreads their body with rapture and bliss born of seclusion. There’s no part of the body that’s not spread with rapture and bliss born of seclusion.

mn119:18.5 As they meditate like this—diligent, keen, and resolute—memories and thoughts tied to lay life are given up.

mn119:18.6 Their mind becomes stilled internally; it settles, unifies, and becomes immersed in samādhi.

mn119:18.7 That too is how a mendicant develops mindfulness of the body.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.