
Buddha
Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Khotbah di Isigili

Isigili Sutta membawa pembaca ke gunung Isigili dekat Rājagaha. Buddha mengenang para paccekabuddha masa lampau, sehingga sutta ini terasa seperti penghormatan kepada jejak para bijaksana yang sunyi.

Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Gunung Isigili menjadi pusat suasana sutta ini, sebagai tempat yang menyimpan ingatan para petapa suci.
Sutta ini mengingatkan bahwa tempat dapat menyimpan makna latihan, kesunyian, dan penghormatan terhadap mereka yang telah menembus kebenaran.
Buddha menjelaskan berbagai keadaan yang tidak mungkin terjadi secara bersamaan dan keadaan yang mungkin terjadi menurut hukum pengalaman dan kamma. Sutta menyusun banyak pasangan: satu Buddha sempurna tidak muncul bersama Buddha sempurna lain dalam satu sistem dunia yang sama; tindakan tertentu membawa jenis akibat tertentu; dan kualitas moral membatasi arah hasil yang mungkin muncul. Rangkaian itu berfungsi seperti peta keteraturan Dhamma—bukan semua kemungkinan terbuka tanpa batas, karena sebab tertentu memiliki konsekuensi dan kondisi tertentu membuat hasil lain tidak mungkin.
mn116:7.1 Mereka ini dan para mulia lainnya yang tercerahkan secara mandiri,
mn116:7.2 para Paccekabuddha yang telah memutus belenggu kelahiran kembali—
mn116:7.3 hormatilah para resi agung yang telah melampaui segala belenggu,
mn116:7.4 yang telah mencapai parinibbāna, yang tak terukur.”
mn116:7.5 Selesai Sutta Isigili, yang keenam.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.